Chapnews – Nasional – Sebuah potret buram dunia pendidikan di Sumatera Utara kembali mencuat ke permukaan. Kondisi memprihatinkan Sekolah Dasar Negeri (SDN) 112329 di Dusun Padang Nabidang, Desa Pematang, Kecamatan NA IX-X, Kabupaten Labuhanbatu Utara (Labura), yang nyaris ambruk dan tak memiliki fasilitas sanitasi layak, viral di media sosial. Lebih ironis lagi, pemandangan pilu ini kontras dengan megahnya bangunan dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang baru rampung di seberangnya.
Video yang diunggah oleh sebuah akun Instagram memperlihatkan kerusakan parah pada bangunan sekolah yang masih aktif digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Sekolah ini menampung sekitar 36 siswa yang setiap hari harus menghadapi ancaman bahaya dari struktur bangunan yang rapuh.

Pengunggah video secara gamblang menyoroti ketimpangan ini. "Masih ingat dengan bangunan MBG yang pengerjaannya rampung dalam hitungan minggu di seberang sekolah dasar yang kondisinya jauh dari kata layak, sangat memprihatinkan," ujarnya, menyiratkan pertanyaan besar tentang prioritas pembangunan.
Dari tayangan video yang beredar luas, terlihat jelas bagaimana bangunan sekolah yang mayoritas semi permanen ini telah dimakan usia dan kerusakan parah. Atap asbesnya bolong di sana-sini, pintu-pintu kelas raib entah ke mana, dan lantai-lantai pun hancur tak karuan. "Mari kita lihat bersama satu per satu ruang kelas yang ada di sekolah ini. Kita mulai dari kelas yang paling ujung. Asbesnya sudah hancur. Pintunya sudah enggak ada. Sekolah ini masih aktif, masih berfungsi seperti sekolah pada umumnya," tutur pengunggah video, menggambarkan realitas pahit pendidikan di pelosok.
Kerusakan tak hanya menimpa ruang kelas. Ruang guru pun bernasib serupa, bahkan lebih parah. Atapnya jebol, pintu dan jendela tak berbekas. Beberapa sisi dinding yang runtuh terpaksa ditutupi dengan baliho seadanya. "Mari kita lihat ruangan guru, tapi sayangnya sudah tak digunakan lagi. Sudah tidak dipakai lagi. Karena kondisinya begini. Pintunya enggak ada, jendelanya enggak ada. Seng nya atapnya jebol," jelasnya.
Puncak dari kondisi miris ini adalah ketiadaan fasilitas toilet yang layak. Sekolah yang dikelilingi hutan dan perkebunan kelapa sawit ini memaksa murid-muridnya untuk buang hajat di sungai atau semak-semak di balik pohon sawit. "Sekolah ini tidak memiliki toilet. Ada bangunannya tapi sudah tak digunakan lagi. Kalau muridnya ingin buang hajat itu di sungai sana. Di balik pohon sawit itu ada sungai," papar pengunggah video, mengungkap praktik yang jauh dari standar kesehatan dan kenyamanan.
Menanggapi gelombang kritik atas video tersebut, Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, mengaku belum menerima laporan detail mengenai kondisi SDN 112329. Ia berjanji akan segera melakukan pengecekan mendalam. "Nanti saya tanya dulu ya. Saya tanya dulu," kata Bobby kepada awak media di Kantor Gubernur Sumut, Selasa (4/8).
Bobby kemudian menjelaskan pembagian kewenangan, di mana pengelolaan sekolah dasar (SD) merupakan tanggung jawab pemerintah kabupaten/kota, sementara pemerintah provinsi fokus pada jenjang SMA dan SMK. "Bukan kami tidak mau (mengurus SD). SMA juga masih banyak yang belum beres. Itu tanggung jawab utama dari pemerintah provinsi," tegas Bobby, sembari menambahkan bahwa ia tidak bermaksud melempar tanggung jawab. "Saya bukan lempar-lempar bola, bukan. Cuma jangan nanti belum tugas kami belum selesai, kami sok ngurusin tugas orang lain," imbuhnya, menekankan prioritas pada tugas pokok provinsi.
Meski demikian, Bobby menyatakan akan menyampaikan persoalan ini kepada Bupati Labuhanbatu Utara. Ia membuka peluang bagi Pemprov Sumut untuk memberikan bantuan apabila pemerintah daerah mengalami keterbatasan anggaran untuk perbaikan. Bobby mengklaim, setiap tahun Pemprov Sumut mengalokasikan dana bantuan kepada pemerintah kabupaten dan kota yang nilainya mencapai lebih dari Rp400 miliar, menunjukkan adanya potensi dukungan finansial untuk mengatasi krisis pendidikan ini. Publik kini menanti langkah konkret dari pemerintah daerah dan provinsi untuk menyelamatkan masa depan puluhan siswa di Labura.

