Chapnews – Nasional – Presiden Prabowo Subianto secara khusus memanggil Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo ke kediaman pribadinya di Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Selasa (1/9). Agenda utama pertemuan penting ini adalah membahas perkembangan situasi nasional, dengan penekanan kuat pada penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kian mengkhawatirkan di beberapa wilayah Sumatera dan Kalimantan.
Pertemuan strategis ini berlangsung menjelang keberangkatan Presiden Prabowo ke Rusia untuk menghadiri Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, menunjukkan urgensi penanganan karhutla sebelum kunjungan kenegaraan tersebut.

Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya mengungkapkan bahwa dalam kesempatan tersebut, Presiden Prabowo mendapatkan pembaruan terkini mengenai kondisi di lapangan serta langkah-langkah konkret yang telah dan akan diambil untuk menangani serta mengendalikan karhutla. "Pertemuan tersebut membahas perkembangan situasi nasional serta penanganan kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan," tulis Teddy melalui unggahan di akun Instagram resmi Sekretariat Kabinet, Selasa (1/9).
Teddy menambahkan, pemerintah terus memperkuat sinergi dan koordinasi antarlembaga guna memastikan respons yang cepat, terpadu, dan efektif dalam penanganan karhutla. Upaya ini juga difokuskan untuk mengantisipasi potensi meluasnya titik kebakaran di berbagai daerah, mengingat dampak serius yang ditimbulkannya.
Daftar pejabat tinggi yang turut hadir dalam pertemuan tersebut mencakup Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Seskab Teddy Indra Wijaya, Wakapolri Komjen Pol Dedi Prasetyo, serta Kapolda Metro Jaya Komjen Pol Asep Edi Suheri. Selain itu, hadir pula Kabaintelkam Komjen Pol Yuda Gustawan, Wakil Panglima TNI Jenderal TNI Tandyo Budi Revita, Kabaharkam Polri Komjen Pol Haryanto, Kababinkum TNI Laksda TNI Kresno Buntoro, hingga Asisten Intelijen Panglima TNI Mayjen TNI Rio Firdianto.
Kondisi karhutla di Kalimantan, khususnya, masih menjadi perhatian serius pemerintah. Di Kalimantan Barat, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan setidaknya 30 titik api aktif masih terpantau, dengan kualitas udara di sejumlah area mencapai level berbahaya. Bahkan, jarak pandang dilaporkan anjlok hingga di bawah 1 kilometer, mengganggu mobilitas dan kesehatan masyarakat secara signifikan.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menjelaskan bahwa operasi pemadaman, baik melalui jalur darat maupun udara, terus digencarkan. Namun, petugas di lapangan menghadapi kendala signifikan, mulai dari visibilitas yang rendah, karakteristik lahan gambut yang sulit dipadamkan, hingga keterbatasan akses sumber air.
Sementara itu, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah telah menetapkan status tanggap darurat karhutla yang berlaku mulai 31 Agustus hingga 29 September 2026. Data per 31 Agustus menunjukkan 2.285 insiden karhutla telah melanda, dengan total lahan yang terbakar mencapai 6.587,84 hektare, menggambarkan skala tantangan yang dihadapi.

