Chapnews – Ekonomi – Harga cabai rawit merah kembali menggegerkan pasar, setelah sempat meroket tajam menembus Rp100.000 per kilogram (kg) dalam sepekan terakhir. Meskipun saat ini terpantau sedikit melandai di kisaran Rp80.000 per kg, Badan Pangan Nasional (Bapanas) dengan tegas mengungkapkan bahwa biang kerok di balik lonjakan harga yang memedihkan kantong ini bukan karena kekurangan produksi nasional, melainkan faktor cuaca ekstrem yang mengganggu proses panen.
Berdasarkan hasil pemantauan intensif dan inspeksi mendadak yang dilakukan Bapanas di salah satu sentra distribusi utama, Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, harga cabai rawit merah memang tercatat di angka Rp80.000 per kg. Angka ini menunjukkan sedikit penurunan dibanding puncaknya yang sempat menyentuh Rp90.000 hingga Rp100.000 per kg pada pekan sebelumnya, sebuah level yang sangat memberatkan konsumen.

Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menjelaskan secara gamblang bahwa secara agregat nasional, stok produksi cabai rawit sebenarnya masih berada dalam kondisi yang sangat mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pasar. Namun, kendala utama muncul akibat tingginya intensitas curah hujan yang melanda berbagai wilayah sentra produksi, yang secara signifikan menghambat proses panen.
“Produksi sebenarnya sangat cukup, tetapi masalahnya ada pada proses pemetikan,” ujar Deputi Ketut dalam keterangan resminya yang diterima chapnews.id di Jakarta, Senin (16/2/2026). Ia menambahkan, “Saat hujan tinggi, tenaga kerja tidak berani memetik karena cabai yang dipetik dalam kondisi basah akan cepat busuk dan kualitasnya menurun drastis, sehingga tidak layak jual.” Kondisi ini secara otomatis mengurangi pasokan cabai segar yang masuk ke pasar, memicu kenaikan harga yang tak terhindarkan.



