Ads - After Header

Penyebab Desil Berubah Drastis Terbongkar, Bukan Otomatis Dicoret!

Ahmad Dewatara

Chapnews – Ekonomi – Perubahan drastis pada data desil di Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) sempat menimbulkan kebingungan di kalangan masyarakat. Menteri Sosial (Mensos), Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, akhirnya angkat bicara, menjelaskan bahwa lonjakan data ini disebabkan oleh masuknya sekitar 12 juta data baru dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) yang belum melalui proses verifikasi dan validasi menyeluruh.

Gus Ipul menambahkan, fluktuasi data desil yang sempat mencolok pada DTSEN Volume 3 kini telah diperbaiki dalam DTSEN Volume 3.1 yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Pemerintah, lanjutnya, berkomitmen untuk terus mengkonsolidasikan dan memperbarui DTSEN demi akurasi data yang lebih baik, dengan melibatkan berbagai sumber, termasuk kolaborasi dengan pemerintah daerah.

Penyebab Desil Berubah Drastis Terbongkar, Bukan Otomatis Dicoret!
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Mensos Gus Ipul menegaskan bahwa proses stabilisasi dan perapian data sedang berlangsung. "Baru masuk 12 juta data baru dari BKKBN yang belum dilakukan verifikasi dan validasi, sehingga loncat-loncat. Nah sekarang sudah distabilkan, dirapikan, diverifikasi dan validasi. Insyaallah dalam waktu 1-2 minggu ke depan, data ini akan makin akurat," ujar Gus Ipul saat ditemui di Jakarta, Kamis (3/9/2026) malam.

Penting untuk digarisbawahi, lanjut Gus Ipul, bahwa perubahan desil tidak secara otomatis menggugurkan status seseorang sebagai penerima bantuan sosial (bansos). Penyaluran bantuan tetap berpegang pada penetapan penerima pada periode penyaluran yang telah ditentukan.

"Sehingga, tidak serta-merta orang yang sekarang desilnya berubah, itu otomatis dicoret (bansosnya). Karena masih menunggu penetapan pada awal bulan penyaluran. Misalnya sekarang ini kan ada lonjakan-lonjakan, itu tidak otomatis (bansos) hilang, karena kan kita belum menyalurkan. Sementara untuk PBI itu setiap bulan sekali," jelasnya.

Sementara itu, Tenaga Ahli Menteri Sosial Bidang Perencanaan dan Evaluasi Kebijakan Strategis, Andy Kurniawan, turut memberikan pencerahan mengenai konsep desil DTSEN. Ia menegaskan bahwa desil bukanlah indikator mutlak untuk mengukur status kaya atau miskin, apalagi besaran penghasilan seseorang.

"Desil itu bukan sertifikat kaya dan miskin. Desil tidak bisa disamakan secara ekuivalen dengan penghasilan. Desil 1 penghasilannya sekian atau desil 10 penghasilannya sekian, itu tidak bisa," terang Andy.

Andy melanjutkan, sifat relatif desil memungkinkan posisi seseorang berubah meskipun kondisi ekonominya pribadi tidak mengalami pergeseran. Perubahan ini terjadi karena adanya dinamika kondisi kesejahteraan keluarga lain dalam skala pemeringkatan nasional.

"Misalnya bencana di Sumatera, sehingga banyak orang yang jatuh miskin, maka otomatis desil saya akan naik. Karena kalau direngking ulang secara nasional, ada orang yang turun, maka ada orang yang naik (desilnya)," pungkasnya.

Also Read

Bagikan:

Ahmad Dewatara

kontributor di ChapNews yang berfokus pada liputan dan analisis Olahraga. Ia secara rutin menyajikan berita terkini, ulasan pertandingan, dan spekulasi transfer di dunia sepak bola global maupun nasional, memberikan pandangan yang tajam bagi para penggemar olahraga.

Tags

Tinggalkan komentar

Ads - Before Footer