Chapnews – Nasional – Fenomena mudik malam hari menjelang Lebaran 2026 semakin mendominasi pilihan pemudik di berbagai ruas tol utama, mulai dari Cikampek menuju Transjawa hingga jalur pelabuhan Merak dan Ciwandan di Banten. Peningkatan signifikan ini, yang bahkan mencapai 60,71 persen di ruas Tol MbZ dibandingkan lalu lintas normal, menunjukkan pergeseran preferensi waktu perjalanan yang menarik untuk dicermati.
Berbagai alasan melatarbelakangi pilihan ini, salah satunya adalah strategi untuk menjaga kelancaran ibadah puasa. Banyak pemudik memilih untuk berangkat setelah atau menjelang waktu berbuka puasa, demi menghindari risiko "mokel" atau batal puasa di tengah perjalanan. "Kami memilih berangkat setelah buka puasa agar ibadah puasa tidak terganggu selama perjalanan," ungkap Maya, seorang pemudik tujuan Bandung, kepada chapnews.id di salah satu rest area Tol Cikampek.

Selain pertimbangan ibadah, faktor kenyamanan keluarga juga menjadi pendorong kuat. Cuaca malam yang lebih sejuk dinilai sangat membantu menjaga suasana hati penumpang, terutama anak-anak, agar tetap tenang dan bisa beristirahat. "Dengan membawa dua anak, perjalanan malam terasa lebih santai. Cuaca sejuk membuat mereka nyaman dan bisa beristirahat, tidak seperti siang hari yang panas," tutur Fajar, pemudik asal Depok yang berencana menuju Cilacap, Jawa Tengah.
Namun, di balik kenyamanan dan kelancaran yang ditawarkan, perjalanan malam hari menyimpan potensi bahaya serius yang tak boleh diabaikan. Berkendara di luar jam biologis tubuh manusia dapat memicu kelelahan ekstrem hingga kehilangan kesadaran sesaat atau microsleep. Data Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) periode 2024-2025 bahkan menunjukkan fakta mencengangkan: 60 persen kecelakaan lalu lintas darat disebabkan oleh faktor kelelahan atau kantuk pengemudi.
Untuk meminimalisir risiko, dr. Sri Hindarjo, Penanggung Jawab Medis PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat, menekankan pentingnya manajemen istirahat yang disiplin. "Kami merekomendasikan pengemudi untuk beristirahat minimal 30 menit setiap 2 hingga 4 jam berkendara," jelasnya di Posko Mudik Rest Area 57 Tol Cikampek.
Kondisi fisik prima menjadi syarat mutlak. Pengemudi wajib memastikan durasi tidur minimal tujuh jam sebelum menempuh perjalanan malam dan menghindari konsumsi obat-obatan yang dapat menyebabkan kantuk. Tanda-tanda awal seperti menguap berlebihan harus segera direspons sebagai sinyal tubuh yang membutuhkan istirahat, karena hal itu mengindikasikan penurunan konsentrasi. Mengabaikan sinyal ini dapat berakibat fatal.
Dengan persiapan matang dan kesadaran akan risiko, perjalanan mudik malam hari dapat tetap menjadi pilihan yang aman dan nyaman. Namun, mengabaikan peringatan keselamatan dapat mengubah strategi cerdas menjadi petaka yang tak diinginkan.


