Ads - After Header

Rupiah Bangkit Perkasa! Dolar AS Terkapar, Ini Pemicunya!

Ahmad Dewatara

Rupiah Bangkit Perkasa! Dolar AS Terkapar, Ini Pemicunya!

Chapnews – Ekonomi – Rupiah menunjukkan taringnya di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan pekan ini. Mata uang Garuda berhasil menguat tipis, didorong oleh kombinasi sentimen positif dari kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) dan langkah strategis pemerintah dalam merespons pascabencana. Penguatan ini memberikan secercah harapan di tengah fluktuasi pasar global.

Di pasar spot, Rupiah terapresiasi Rp30 atau 0,18%, menembus level Rp16.646 per dolar AS. Meskipun secara mingguan penguatan ini terbilang tipis, hanya Rp2 dari posisi Rp16.648 pada akhir pekan sebelumnya, namun tetap menunjukkan resistensi yang baik. Sementara itu, kurs referensi Jisdor juga mencatat kenaikan Rp16 atau 0,10% menjadi Rp16.652 per dolar AS, mengonfirmasi tren penguatan.

Rupiah Bangkit Perkasa! Dolar AS Terkapar, Ini Pemicunya!
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Pengamat Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa angin segar bagi Rupiah datang dari keputusan Federal Reserve (The Fed) yang kembali memangkas suku bunga acuan untuk ketiga kalinya pekan ini. Kebijakan ini menempatkan Fed Funds Rate pada rentang 3,50%-3,75%. "Penurunan suku bunga AS ini secara teoretis mengecilkan imbal hasil surat utang AS, sehingga berpotensi menarik kembali aliran dana asing ke pasar yang menawarkan return lebih tinggi, termasuk pasar domestik Indonesia," ujar Ibrahim, seperti dikutip chapnews.id, Sabtu (13/12/2025).

Selain itu, dolar AS juga terbebani oleh data pekerjaan yang lebih lemah dari ekspektasi. Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa Klaim Pengangguran Awal AS untuk pekan yang berakhir pada 6 Desember melonjak menjadi 236 ribu, naik signifikan dari angka revisi pekan sebelumnya sebesar 192 ribu. "Data pekerjaan yang kurang memuaskan ini memberikan tekanan pada Dolar AS," tambah Ibrahim.

Meskipun demikian, Ibrahim juga mengingatkan bahwa para pembuat kebijakan The Fed mengisyaratkan kemungkinan jeda dalam pemangkasan suku bunga lebih lanjut. Hal ini dikarenakan inflasi yang "tetap agak tinggi" menjadi perhatian. "Pasar saat ini memperkirakan hampir 78% kemungkinan bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga stabil bulan depan," jelasnya, mengindikasikan kehati-hatian investor terhadap langkah The Fed berikutnya.

Dari sisi domestik, sentimen positif tak kalah penting. Pemerintah berencana menyiapkan paket kebijakan ekonomi khusus untuk pemulihan pascabencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Langkah ini diharapkan dapat menopang stabilitas ekonomi di daerah terdampak dan secara tidak langsung memberikan kepercayaan diri bagi pasar.

Ibrahim menyoroti bahwa paket kebijakan ini mencakup penghapusbukuan dan restrukturisasi bagi debitur Kredit Usaha Rakyat (KUR) guna mencegah lonjakan klaim penjaminan kredit KUR. "Keringanan juga diberikan bagi pekerja dan perusahaan terdampak bencana, seperti penghapusan utang iuran dan denda BPJS Ketenagakerjaan, serta kemudahan proses pencairan klaim Jaminan Hari Tua (JHT), Jaminan Kematian (JKM), Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), dan Jaminan Pensiun (JP)," pungkas Ibrahim. Kombinasi faktor global dan domestik inilah yang menjadi penopang utama penguatan Rupiah di akhir pekan.

Also Read

Bagikan:

Ahmad Dewatara

Ahmad Dewatara

kontributor di ChapNews yang berfokus pada liputan dan analisis Olahraga. Ia secara rutin menyajikan berita terkini, ulasan pertandingan, dan spekulasi transfer di dunia sepak bola global maupun nasional, memberikan pandangan yang tajam bagi para penggemar olahraga.

Tags

Tinggalkan komentar

Ads - Before Footer