Chapnews – Nasional – Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Sufmi Dasco Ahmad, menyampaikan apresiasi mendalam atas serangkaian langkah konkret yang diinisiasi Bank Indonesia (BI) guna memperkuat nilai tukar rupiah di kancah global. Upaya strategis ini, menurut Dasco, menjadi angin segar dalam mengurangi dominasi dolar Amerika Serikat dalam transaksi ekonomi nasional.
Salah satu terobosan penting yang disoroti Dasco adalah penandatanganan Bilateral Currency Swap Arrangement (BCSA). Kesepakatan ini terjalin antara Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, dengan Gubernur People’s Bank of China (PBOC), Pan Gongsheng, pada 11 Juni 2026 di Shanghai, Tiongkok. "Melalui kesepakatan ini, transaksi perdagangan antara Indonesia, Tiongkok Daratan, dan Hong Kong kini dapat dilakukan secara langsung menggunakan mata uang rupiah atau renminbi, tanpa lagi harus bergantung pada dolar Amerika Serikat," terang Dasco dalam keterangan persnya di Jakarta, Minggu (14/6).

Lebih lanjut, Bank Indonesia juga memperluas cakupan Memorandum of Understanding (MoU) terkait Local Currency Transaction (LCT) hingga mencakup wilayah Hong Kong. Perluasan MoU ini turut ditandatangani oleh Chief Executive Hong Kong Monetary Authority (HKMA), Eddie Yue, menandai langkah signifikan dalam integrasi keuangan regional.
Dasco menjelaskan, dalam kerangka MoU tersebut, disepakati pula implementasi QRIS lintas batas antara Indonesia dan Tiongkok. Inovasi ini memungkinkan para pelaku usaha dari kedua negara untuk melakukan transaksi pembayaran secara efisien dan aman menggunakan sistem QRIS antarnegara. "Sistem ini telah berhasil mengintegrasikan 191 penyedia layanan di Tiongkok dan 24 penyedia di Indonesia, semuanya telah terhubung dan siap beroperasi," ungkapnya.
Kesepakatan antara BI dan People’s Bank of China ini diharapkan dapat mempermudah transaksi ekspor-impor Indonesia dengan Tiongkok, yang pada tahun 2025 diproyeksikan mencapai USD 154,5 miliar. Dengan memanfaatkan skema LCT, yakni transaksi langsung antara rupiah dan renminbi, kebutuhan akan dolar Amerika Serikat dalam perdagangan bilateral dapat ditekan secara substansial.
"Ini adalah upaya yang sangat serius dari Bank Indonesia untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat dalam transaksi perdagangan internasional. Termasuk juga dengan digunakannya QRIS lintas negara antara Indonesia-Tiongkok. Langkah-langkah strategis ini secara konsisten dilakukan BI untuk memperkuat fundamental rupiah," pungkas Dasco, menegaskan komitmen BI dalam menjaga stabilitas dan kedaulatan mata uang nasional.


