Chapnews.id – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan tren pelemahan yang cukup mengkhawatirkan di pasar keuangan. Pada penutupan perdagangan Rabu (14/10/2026), mata uang Garuda tercatat merosot ke level Rp17.903 per dolar AS. Meskipun penurunan ini hanya sebesar 3 poin atau sekitar 0,02 persen, namun tekanan yang dialami rupiah mencerminkan ketidakpastian global yang kian memanas.
Melemahnya nilai tukar rupiah kali ini bukan tanpa alasan. Berdasarkan pantauan pasar, terdapat sejumlah sentimen eksternal yang sangat kuat, terutama terkait eskalasi konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah. Ketegangan yang terjadi di wilayah tersebut telah memicu kekhawatiran investor terhadap stabilitas ekonomi global, yang pada akhirnya mendorong aliran modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Salah satu pemicu utama yang menjadi sorotan adalah serangan yang dilakukan oleh kelompok Houthi terhadap fasilitas vital milik perusahaan minyak raksasa dunia, Saudi Aramco. Serangan yang menyasar gedung administrasi di Dhahran, Arab Saudi, tersebut sempat memicu kebakaran di lokasi kejadian. Aksi ini merupakan bagian dari rangkaian serangan rudal balistik dan penggunaan pesawat nirawak (drone) yang dilakukan kelompok tersebut selama sepekan terakhir.
Menurut analisis dari pakar pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, serangan ini merupakan bentuk balasan atas keterlibatan kerajaan Arab Saudi dalam mendukung pasukan pemerintah Yaman. Situasi keamanan di kawasan tersebut semakin mencekam setelah Bandara Internasional Riyadh dilaporkan telah menjadi sasaran serangan sebanyak empat kali. Tragedi serupa juga sempat memakan korban jiwa, di mana serangan pada hari Sabtu lalu dilaporkan menewaskan sedikitnya 13 orang.
Kondisi semakin pelik dengan adanya laporan mengenai strategi baru dari Iran. Berdasarkan informasi yang dihimpun dari Reuters, pejabat senior Iran dilaporkan tengah menerapkan taktik baru untuk menargetkan kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Langkah ini diduga kuat bertujuan untuk menjaga harga minyak dunia tetap tinggi.
Keputusan strategis ini tidak main-main, karena kabarnya telah dikoordinasikan di tingkat tertinggi kepemimpinan Iran dan melibatkan seluruh sistem pemerintahan negara tersebut. Selain untuk menjaga stabilitas harga energi, langkah ini juga dinilai memiliki motif politik untuk memengaruhi dinamika pemilihan umum paruh waktu di Amerika Serikat.
Ketidakpastian di Selat Hormuz, yang merupakan jalur perdagangan minyak paling krusial di dunia, menciptakan efek domino terhadap sentimen risiko global. Para pelaku pasar cenderung memilih aset yang lebih aman (safe haven) seperti dolar AS, yang secara otomatis menekan nilai mata uang negara-negara berkembang seperti rupiah. Jika ketegangan di Timur Tengah terus berlanjut tanpa resolusi yang jelas, tekanan terhadap rupiah diprediksi masih akan berlanjut dalam beberapa waktu ke depan.

