Chapnews – Nasional – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, melontarkan kecaman keras terhadap insiden kontroversial di festival musik "The Sounds Project" di Ancol, Jakarta Utara, Minggu (9/8) lalu. Sebuah tantangan hafalan Al-Quran yang berujung hadiah minuman keras (miras) dinilai Pramono sebagai tindakan yang sangat menodai nilai-nilai keagamaan.
Berbicara di Balai Kota pada Selasa (11/8), Pramono menegaskan bahwa kejadian tersebut mencederai kerukunan dan kehidupan beragama yang selama ini dijunjung tinggi di ibu kota. "Promosi minuman keras yang viral, terlebih lagi dikaitkan dengan kegiatan keagamaan, ini sungguh-sungguh menodai kehidupan keagamaan yang sangat kita jaga bersama di Jakarta," tandasnya dengan nada prihatin.

Menanggapi serius insiden ini, Pramono telah menginstruksikan Asisten Kesejahteraan Rakyat (Askesra) Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta, Ali Maulana Hakim, untuk segera berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait guna mengambil langkah tegas. Ia menekankan bahwa praktik semacam ini tidak boleh terulang dan sangat disesalkan terjadi di Jakarta.
Insiden ini mencuat setelah sebuah video menjadi viral di berbagai platform media sosial. Rekaman tersebut memperlihatkan sebuah booth produk minuman beralkohol di festival musik itu mengadakan tantangan unik: menghafal Surah Adh-Dhuha. Pengunjung yang berhasil menyelesaikan hafalan tersebut dijanjikan imbalan yang kuat dugaan berupa minuman keras. Video tersebut juga menampilkan seorang pengunjung yang melafalkan ayat demi ayat Surah Adh-Dhuha dengan lancar, disambut tepuk tangan dari kerumunan di sekitar booth.
Pihak penyelenggara, The Sounds Project, melalui akun Instagram resminya, segera mengeluarkan pernyataan. Mereka menyatakan kemarahan, kekecewaan, dan kecaman terhadap perilaku tersebut. "Kami tidak pernah, dan tidak akan pernah, membenarkan perilaku yang menjadikan agama sebagai bahan challenge atau promosi produk dalam bentuk apa pun," tegas The Sounds Project, seraya menambahkan bahwa kejadian itu "sepenuhnya di luar arahan, persetujuan, dan kendali kami sebagai penyelenggara acara."
Revnaldo Ega, MC di booth Newport pada acara tersebut, juga menyampaikan permohonan maaf secara terbuka melalui akun Threads miliknya, @aqueer_. "Saya Ega, selaku MC booth Newport pada Minggu, 9 Agustus 2026, memohon maaf atas kejadian yang terjadi saat acara berlangsung," tulisnya. Ega mengklaim bahwa insiden itu merupakan "aksi spontan audiens dan tidak terkait dengan pihak Newport," seraya mengakui kelalaiannya dalam mengendalikan situasi.
Tak ketinggalan, manajemen Newport, produk yang booth-nya menjadi lokasi insiden, juga menyampaikan permohonan maaf mendalam. Direktur Newport, Handoko Sasongko, dalam keterangannya pada Rabu (11/8), meminta maaf kepada seluruh umat Muslim, tokoh agama, dan masyarakat Indonesia atas kegaduhan dan ketidaknyamanan yang ditimbulkan. Handoko menegaskan bahwa aktivitas tersebut "bukan merupakan program, konsep promosi, challenge, maupun arahan yang dibuat atau direncanakan oleh Newport," melainkan muncul secara spontan dari pengunjung. Ia mengakui adanya "kelalaian dalam pengawasan di lapangan," yang menyebabkan tindakan tidak sesuai nilai-nilai agama dan budaya dapat terjadi.


