Chapnews.id – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, mengambil langkah strategis untuk memastikan setiap kebijakan pemerintah dapat tersampaikan dengan efektif kepada seluruh lapisan masyarakat. Langkah ini ditunjukkan melalui pertemuan khusus yang digelar di kediaman pribadinya di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, pada Minggu (4/10). Dalam pertemuan tersebut, Presiden memanggil dua sosok kunci yang baru saja mengemban amanah di Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), yakni Syahganda Nainggolan selaku Kepala Bakom dan Fadli Tri Hartono sebagai Wakil Kepala.
Pertemuan yang berlangsung di kawasan Hambalang ini bukan sekadar pertemuan formal biasa. Menurut keterangan Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, melalui unggahan di akun resmi @sekretariat.kabinet, diskusi tersebut berfokus pada penguatan peran vital Bakom. Presiden ingin lembaga ini menjadi ujung tombak dalam menyebarluaskan program-program pemerintah, serta menjelaskan hasil dan manfaat nyata dari setiap kebijakan yang diambil kepada publik.

Salah satu poin krusial yang ditekankan oleh Presiden Prabowo adalah mengenai gaya komunikasi. Ia meminta agar Bakom tidak menggunakan bahasa birokrasi yang kaku dan sulit dipahami. Sebaliknya, pemerintah harus menggunakan bahasa yang sederhana, merakyat, dan mudah diterima oleh masyarakat luas. Hal ini penting agar tidak terjadi kesalahpahaman atau distorsi informasi mengenai arah kebijakan negara.
Lebih jauh lagi, Presiden Prabowo menginginkan adanya pergeseran paradigma dalam cara kerja Bakom. Ia tidak ingin lembaga ini hanya berfungsi sebagai corong searah yang sekadar menyampaikan apa yang telah dikerjakan oleh pemerintah. Prabowo menekankan bahwa Bakom harus mampu menjelaskan filosofi, arah, serta pemikiran mendalam yang melandasi setiap kebijakan yang diambil. Dengan begitu, masyarakat tidak hanya tahu "apa" yang dilakukan pemerintah, tetapi juga memahami "mengapa" kebijakan tersebut diambil.
Selain itu, Presiden memberikan instruksi agar Bakom menjalankan fungsi dua arah. Bakom dituntut untuk tidak hanya aktif memberikan informasi, tetapi juga harus memiliki kepekaan untuk mendengarkan. Presiden meminta agar Bakom menjadi telinga bagi rakyat dengan menyerap masukan, keluhan, hingga kritik yang muncul di tengah masyarakat. Informasi tersebut nantinya harus diteruskan secara sistematis kepada kementerian, lembaga terkait, hingga langsung kepada Presiden.
Melalui pertemuan ini, diharapkan tercipta pola komunikasi yang lebih terbuka, dialogis, dan berkesinambungan antara pemerintah, media massa, dan masyarakat. Hal ini bertujuan agar setiap pemikiran Presiden dapat dipahami secara utuh, sekaligus menjamin bahwa aspirasi rakyat tetap menjadi prioritas dalam setiap pengambilan keputusan.
Sebagai informasi, Syahganda Nainggolan dan Fadli Tri Hartono baru saja resmi diangkat memimpin Bakom pada Jumat (2/10) lalu. Syahganda hadir menggantikan M. Qodari yang kini telah beralih tugas menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Penunjukan Syahganda menandai babak baru dalam dinamika kepemimpinan lembaga komunikasi di bawah pemerintahan Prabowo.


