Chapnews – Ekonomi – PT Pegadaian (Persero) bersama Universitas Andalas (Unand) baru-baru ini menunjukkan komitmen kuatnya dalam mitigasi bencana dengan menyerahkan hasil riset komprehensif. Penelitian berjudul "Pemberdayaan Masyarakat dalam Kesiapsiagaan Mandiri Menghadapi Ancaman Gempa Megathrust Mentawai dan Tsunami di Kota Padang" ini diharapkan menjadi panduan strategis bagi masyarakat pesisir. Penyerahan blueprint mitigasi ini berlangsung di Kampus Unand Padang dan diterima langsung oleh Wali Kota Padang, Fadly Amran, menandai langkah maju dalam perlindungan komunitas dari ancaman bencana alam.
Inisiatif ini merupakan perwujudan nyata dari pilar sosial dalam komitmen Environmental, Social, and Governance (ESG) Pegadaian. Melalui program "Pegadaian Peduli", perusahaan menegaskan bahwa fokusnya tidak hanya pada ekspansi inklusi finansial, tetapi juga pada investasi sosial jangka panjang dan keselamatan masyarakat, terutama di wilayah-wilayah yang rentan terhadap bencana.

Riset kolaboratif tersebut berhasil merumuskan sebuah cetak biru (blueprint) model manajemen risiko bencana berbasis komunitas yang inovatif. Model ini mengintegrasikan lima elemen kunci: pengembangan teknologi deteksi dini tsunami yang dapat dioperasikan secara mandiri, pembentukan sistem evakuasi yang terkoordinasi oleh komunitas, optimalisasi fungsi masjid sebagai pusat informasi dan shelter evakuasi, penyusunan prosedur operasional standar (SOP) evakuasi yang jelas, serta program edukasi masyarakat yang dilengkapi dengan simulasi bencana mandiri.
Mengingat tingginya potensi ancaman gempa megathrust Mentawai dan risiko tsunami yang membayangi sepanjang garis pantai Kota Padang, solusi yang ditawarkan tidak lagi hanya bergantung pada infrastruktur pemerintah. Sebaliknya, riset ini menekankan pentingnya penguatan kapasitas internal warga sebagai garda terdepan dalam upaya penyelamatan diri dan komunitas.
Salah satu terobosan paling signifikan dari penelitian ini adalah penempatan masjid sebagai simbol sentral kesiapsiagaan darurat. Di bawah model baru yang diusulkan, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, melainkan dioptimalkan perannya sebagai shelter evakuasi sementara yang aman, pusat kendali informasi vital, sekaligus ruang koordinasi utama bagi warga saat menghadapi situasi krisis.


