Chapnews.id – Kasus tewasnya seorang pemuda berinisial Rafli alias Pingky (19) dalam sebuah insiden pembubaran tawuran di Kecamatan Tallo, Makassar, Sulawesi Selatan, kini memasuki babak baru. Pihak kepolisian melalui Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda Sulawesi Selatan telah memanggil Kapolsek Tallo, AKP Asfada, untuk dimintai keterangan terkait peristiwa maut tersebut.
Langkah pemeriksaan ini diambil guna mendalami prosedur penggunaan senjata api oleh petugas di lapangan. Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Didik Supranoto, mengonfirmasi bahwa pemeriksaan tidak hanya menyasar pimpinan polsek setempat, tetapi juga melibatkan sejumlah personel yang bertugas saat kejadian berlangsung.

"Hingga saat ini, Propam Polda Sulsel telah memeriksa tujuh anggota yang bertugas di lokasi, termasuk Kapolsek Tallo dan sejumlah warga sekitar," ujar Kombes Pol Didik dalam keterangannya pada Senin (28/9).
Berdasarkan hasil pemeriksaan medis dan autopsi yang telah dilakukan, penyebab kematian korban dipastikan akibat luka tembak yang cukup fatal. Tim medis menemukan adanya luka tembus yang melintasi bagian tubuh korban.
"Hasil autopsi menunjukkan adanya luka di bagian punggung sebelah kiri, tepatnya di area rusuk ketiga, yang kemudian mengarah ke sisi kanan hingga ke bagian pundak. Itulah penyebab utama kematian saudara Rafli," jelas Didik secara mendalam.
Untuk memastikan keabsahan penggunaan amunisi, penyidik kini tengah menunggu hasil uji balistik dari Laboratorium Forensik (Labfor). Senjata api serta peluru yang digunakan oleh personel Polsek Tallo telah disita untuk diuji secara ilmiah. Hal ini krusial untuk menentukan apakah peluru yang mengenai korban merupakan peluru tajam, peluru karet, atau jenis amunisi lainnya.
"Kami menunggu hasil uji balistik untuk mengetahui ukuran milimeter peluru dan jenisnya. Apakah itu peluru tajam atau peluru karet, semuanya akan terungkap melalui uji laboratorium tersebut," tambahnya.
Selain fokus pada kematian korban, polisi juga tengah menyelidiki aksi anarkis lainnya yang terjadi selama tawuran berlangsung. Beberapa fasilitas umum, termasuk posko siaga Tripika dan sebuah sepeda motor milik Bhabinkamtibmas Polsek Bontoala, dilaporkan menjadi sasaran pembakaran dan perusakan oleh massa.
Didik menegaskan bahwa kepolisian akan bertindak tegas dan profesional dalam menangani dua sisi kasus ini. "Proses hukum terkait kematian korban tetap berjalan, namun penyelidikan terhadap pelaku perusakan fasilitas juga terus kami lakukan. Keduanya akan ditangani secara paralel," tegasnya.
Kronologi kejadian bermula saat massa terlibat tawuran hebat. Petugas yang tiba di lokasi untuk membubarkan kerumunan justru mendapatkan perlawanan dari para peserta tawuran. Dalam situasi yang memanas tersebut, petugas diduga mengeluarkan tembakan peringatan.
Guna mencegah terjadinya aksi balas dendam atau tawuran susulan yang dapat mengganggu stabilitas keamanan di Makassar, Polda Sulsel telah mengerahkan personel tambahan untuk memperkuat Polsek Tallo. Patroli intensif, pengamanan wilayah, hingga pendekatan melalui intelijen dan Binmas terus ditingkatkan demi memastikan situasi kembali kondusif.


