Chapnews – Nasional – Luas lahan hutan dan gambut yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Indonesia telah mencapai angka yang mengkhawatirkan, melampaui 107 ribu hektare hingga awal Agustus 2026. Situasi darurat ini mendorong pemerintah untuk mengerahkan segala upaya, baik dari udara maupun darat, guna menekan laju bencana yang terus meluas.
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Djamari Chaniago, dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta pada Senin (10/8), menegaskan bahwa data terbaru menunjukkan lebih dari 107.000 hektare wilayah hutan di Indonesia telah hangus terbakar. "Sampai dengan hari ini, wilayah kita di Indonesia ini yang terbakar hutan terhitung 107.000 hektar lebih," ujarnya, menyoroti skala kerusakan yang signifikan.

Pemerintah tidak tinggal diam menghadapi ancaman Karhutla. Berbagai strategi penanganan telah diimplementasikan secara masif. Untuk operasi udara, puluhan armada dikerahkan, termasuk sekitar 43 helikopter dan 10 hingga 15 pesawat fixed-wing yang siap beroperasi sesuai kebutuhan di lapangan. Sementara itu, Satuan Tugas (Satgas) Darat juga diperkuat dengan jumlah personel dan peralatan yang memadai untuk melakukan pemadaman langsung di lokasi-lokasi terdampak.
Djamari Chaniago menekankan bahwa operasi udara, khususnya Modifikasi Cuaca (OMC) atau hujan buatan, menjadi salah satu langkah paling efektif dalam upaya pemadaman Karhutla. Namun, ia juga mengakui adanya tantangan besar. Keberhasilan OMC sangat bergantung pada ketersediaan awan hujan yang memadai. "Selama awan hujan itu tidak bisa kita temukan, tidak ada, kita tidak akan bisa membuat hujan buatan," jelasnya, menggarisbawahi keterbatasan teknologi di hadapan kondisi alam.
Meski demikian, ada secercah harapan di tengah kepungan asap. Berdasarkan perkiraan cuaca, Menko Polkam menyebutkan adanya potensi kemunculan awan hujan dalam beberapa hari ke depan, diperkirakan hingga 18 Agustus. "Minggu-minggu ini sampai dengan tanggal 18 Agustus itu ada tiga atau empat hari kemungkinan awan hujan ada," kata Djamari, berharap anugerah alam ini dapat membantu mengatasi krisis Karhutla, terutama menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.


