Chapnews – Ekonomi – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan pelemahan signifikan pada akhir perdagangan Jumat (6/2/2026), ditutup di level Rp16.876 per dolar AS. Penurunan sebesar 34,5 poin atau sekitar 0,20 persen ini tak lepas dari kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang menekan mata uang Garuda, memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar.
Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, dalam risetnya yang dikutip chapnews.id, menyoroti ketegangan geopolitik di Timur Tengah sebagai salah satu pemicu utama pelemahan rupiah. Pertemuan antara pejabat Amerika Serikat dan Iran di Oman pada Jumat sore menjadi sorotan tajam, di tengah pengerahan setidaknya dua armada angkatan laut AS di kawasan tersebut. Pasar berharap dialog ini dapat meredakan eskalasi dan mencegah konflik yang lebih luas. Namun, perbedaan pandangan mengenai agenda pembicaraan, di mana Iran menolak membahas persenjataan rudalnya dan hanya fokus pada ambisi nuklir, menimbulkan keraguan. Posisi Iran sebagai produsen minyak vital dan letaknya di dekat Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia untuk minyak mentah, menambah kompleksitas situasi global.

Dari Amerika Serikat, data ekonomi terbaru turut memberikan tekanan. Laporan pemutusan hubungan kerja (PHK) Challenger menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan AS memangkas jumlah karyawan pada Januari dengan laju tercepat sejak resesi besar tahun 2009. Ditambah lagi, data klaim pengangguran mingguan melampaui ekspektasi, sementara lowongan kerja untuk bulan Desember juga di bawah perkiraan. Pasar tenaga kerja yang mendingin ini, menurut analisis, dapat mendorong Federal Reserve untuk memangkas suku bunga, yang secara teori akan menekan dolar AS. Kendati demikian, ketidakpastian seputar kebijakan moneter di bawah kemungkinan kepemimpinan Warsh, mantan gubernur The Fed yang dipandang sebagai pilihan kurang dovish untuk peran puncak The Fed, menambah dinamika di pasar.
Di ranah domestik, kabar dari lembaga pemeringkat Moody’s Ratings menjadi sentimen negatif yang tak kalah penting. Moody’s menurunkan outlook utang Indonesia dari stabil menjadi negatif, meskipun peringkat investment grade tetap dipertahankan. Keputusan ini didasari oleh kekhawatiran terhadap kebijakan yang semakin sulit diprediksi, isu tata kelola, serta meningkatnya ketidakpastian yang berpotensi mengikis kepercayaan investor terhadap perekonomian nasional. Kombinasi faktor-faktor ini menciptakan tekanan ganda yang membuat rupiah sulit untuk menguat di tengah gejolak pasar global dan domestik.



