Ads - After Header

Gawat! Konflik Timteng Picu Harga Pangan Meroket?

Ahmad Dewatara

Gawat! Konflik Timteng Picu Harga Pangan Meroket?

Chapnews – Nasional – Anggota Komisi IV DPR RI, Eko Wahyudi, melontarkan peringatan serius kepada pemerintah untuk segera mengambil langkah antisipasi terhadap potensi lonjakan harga pangan. Peringatan ini muncul menyusul eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda, berpotensi memicu gejolak ekonomi global yang berdampak langsung pada stabilitas harga kebutuhan pokok di dalam negeri.

Menurut Eko, pemerintah tidak boleh lengah dan harus secara intensif memantau pergerakan harga pangan di pasar internasional. Ia menekankan pentingnya intervensi pemerintah jika kenaikan harga tak dapat dihindari. Salah satu strategi yang diusulkan adalah pemanfaatan peran Badan Gizi Nasional (BGN) untuk menyerap hasil produksi dalam negeri.

Gawat! Konflik Timteng Picu Harga Pangan Meroket?
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

"Untuk menyiasati kerugian peternak ayam akibat harga pakan yang tinggi dan harga jual rendah, maka BGN dapat memerintah SPPG sebagai unit pelaksana program Makanan Bergizi Gratis (MBG) untuk menyerap produksi telur guna menstabilkan harga dan menguntungkan peternak setempat," jelas Eko, menyoroti kasus harga telur yang sempat anjlok di tengah kenaikan harga pangan secara umum.

Eko juga mengutip data dari Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) yang menunjukkan kenaikan harga pangan global sebesar 2,4 persen per Maret. Kenaikan ini, lanjutnya, sebagian besar dipicu oleh melonjaknya biaya energi akibat ketegangan di Timur Tengah. Kondisi ini, jika tidak diantisipasi dengan cepat, dapat berimbas pada peningkatan biaya produksi berbagai komoditas, yang pada akhirnya membebani konsumen.

Meskipun demikian, Eko tidak lupa memberikan apresiasi kepada pemerintah atas keberhasilannya dalam menjaga ketersediaan stok pangan nasional, khususnya beras. Mengacu pada pernyataan Menteri Pertanian Amran Sulaiman, stok beras per 7 April 2026 tercatat mencapai 4,6 juta ton, jumlah yang diklaim cukup untuk memenuhi kebutuhan selama 11 bulan ke depan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) juga mengonfirmasi peningkatan produksi beras tahun ini sebesar 4,07 juta ton, atau naik 13,29 persen.

"Saya sangat mengapresiasi atas kerja keras seluruh elemen, dalam hal ini sesuai dengan program strategis Presiden Prabowo," ungkapnya.

Namun, di tengah capaian tersebut, Eko tetap mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai ancaman musim kemarau yang diprediksi akan lebih panjang dari tahun sebelumnya. Fenomena ini berpotensi mengancam produksi pangan nasional. Ia mendorong pemerintah untuk melakukan pemetaan dan mitigasi lintas sektor di daerah-daerah yang rawan kekeringan, didukung oleh penyediaan alat dan infrastruktur yang memadai.

Also Read

Bagikan:

Ahmad Dewatara

Ahmad Dewatara

kontributor di ChapNews yang berfokus pada liputan dan analisis Olahraga. Ia secara rutin menyajikan berita terkini, ulasan pertandingan, dan spekulasi transfer di dunia sepak bola global maupun nasional, memberikan pandangan yang tajam bagi para penggemar olahraga.

Tags

Tinggalkan komentar

Ads - Before Footer