Ads - After Header

KH As’ad: Putra Mekkah, Pengobar Semangat 10 November!

Ahmad Dewatara

Chapnews – Nasional – Sejarah Indonesia mencatat banyak pahlawan, namun kisah KH Raden As’ad Syamsul Arifin memiliki keunikan tersendiri. Lahir di Tanah Suci Mekkah, ulama kharismatik ini bukan hanya seorang pendidik agama, melainkan juga penggerak utama perlawanan heroik 10 November 1945 di Surabaya, sebuah peran yang mengukuhkan namanya sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2016.

Kelahiran KH As’ad pada tahun 1897 di Mekkah Al-Mukarramah terjadi saat kedua orang tuanya, KH Syamsul Arifin (Raden Ibrahim) dan Nyai Siti Maimunah, sedang menunaikan ibadah haji sekaligus menimba ilmu. Darah bangsawan mengalir dalam dirinya; sang ayah merupakan keturunan Sunan Kudus, sementara ibunya memiliki garis keturunan dari Sunan Ampel, seperti yang dikutip dari berbagai sumber terpercaya.

KH As'ad: Putra Mekkah, Pengobar Semangat 10 November!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Sejak kecil hingga remaja, As’ad muda ditempa di berbagai institusi pendidikan Islam. Ia memulai pendidikannya di Pondok Pesantren Kembang Kuning, Pamekasan, Madura, pada usia enam tahun. Lima tahun berselang, ia mengikuti ayahnya pindah ke Sukorejo, Banyuputih, Situbondo, sebuah daerah yang kala itu masih rimbun. Di sanalah ayahnya mendirikan cikal bakal Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah pada tahun 1914, yang kemudian berkembang pesat menjadi pusat dakwah dan ilmu agama. Setelah menimba ilmu di berbagai pesantren di Jawa, termasuk Tebuireng dan Bangkalan, serta kembali ke Mekkah, KH As’ad baru mengambil alih kepemimpinan pesantren setelah wafatnya sang ayah pada tahun 1951. Di bawah kepemimpinannya, pesantren tersebut semakin maju dengan didirikannya Universitas Syafi’iyah pada tahun 1968, lengkap dengan fakultas tarbiyah dan dakwah.

Namun, peran KH As’ad tidak terbatas pada dunia pendidikan. Ketika Resolusi Jihad dikumandangkan untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia, ia tak ragu memimpin laskar santri ke medan perang. Di wilayah Tapal Kuda, yang meliputi Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, Probolinggo, Jember, Lumajang, dan Pasuruan, namanya sangat disegani. Ia menyusun strategi dan memimpin serangan gerilya melawan penjajah Jepang dari markasnya di Pondok Pesantren Raudlatul Ulum, Sumberwringin, Sukowono, Jember. Kharismanya mampu menyatukan laskar Sabilillah, Hizbullah, dan Pelopor dalam satu tujuan yang jernih: Merdeka atau Mati!

Puncaknya adalah keterlibatannya dalam Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. KH As’ad secara aktif mengirimkan anggota laskar Pelopor dan Pasukan Sabilillah dari Situbondo dan Bondowoso menuju Tanjung Perak. Mereka terlibat dalam pertempuran sengit di Jembatan Merah, menghadapi pasukan Belanda yang membonceng Sekutu. Kepemimpinan dan semangat juangnya menjadi inspirasi bagi para pejuang di garis depan, menunjukkan bahwa doa dan keberanian dapat mengubah jalannya sejarah.

Setelah kemerdekaan, KH As’ad terus berkontribusi dalam membangun bangsa. Ia menjadi jembatan penting antara nilai-nilai Islam dan nasionalisme Indonesia, serta menduduki posisi Mustasyar (Dewan Penasihat) di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Ia juga pernah menjabat sebagai Anggota Konstituante pada periode 1957-1959, menunjukkan komitmennya dalam mengisi kemerdekaan dengan pembangunan politik dan keagamaan.

KH As’ad Syamsul Arifin wafat pada 4 Agustus 1990 di Situbondo, Jawa Timur, pada usia 93 tahun. Ia meninggalkan warisan pesantren yang kokoh, Nahdlatul Ulama yang kuat, dan bangsa yang pernah ia bela dengan segenap jiwa dan raga. Penetapannya sebagai Pahlawan Nasional pada 3 November 2016 melalui Keputusan Presiden RI Nomor 90/TK/Tahun 2016 adalah pengakuan atas jasa-jasanya yang tak ternilai dalam perjuangan dan pembangunan bangsa. Kisahnya menjadi teladan abadi bagi generasi penerus.

Also Read

Bagikan:

Ahmad Dewatara

kontributor di ChapNews yang berfokus pada liputan dan analisis Olahraga. Ia secara rutin menyajikan berita terkini, ulasan pertandingan, dan spekulasi transfer di dunia sepak bola global maupun nasional, memberikan pandangan yang tajam bagi para penggemar olahraga.

Tags

Tinggalkan komentar

Ads - Before Footer