Chapnews – Nasional – Institut Pertanian Bogor (IPB) University tengah mengusut tuntas dugaan kasus pelecehan seksual yang melibatkan mahasiswanya di lingkungan Fakultas Teknik dan Teknologi (FTT). Pihak kampus menegaskan komitmennya untuk menangani kasus ini secara komprehensif, berkeadilan, dan berorientasi pada pemulihan korban.
Direktur Kerja Sama, Komunikasi, dan Pemasaran IPB University, Alfian Helmi, menyatakan bahwa kampus tidak akan menoleransi segala bentuk tindakan yang merendahkan martabat, termasuk pelecehan berbasis gender, baik secara daring maupun luring.

Berdasarkan penelusuran awal, insiden ini bermula pada tahun 2024, ketika sebuah grup percakapan mahasiswa diduga memuat komentar-komentar tidak pantas yang merendahkan seorang mahasiswi. Korban, yang kemudian mengetahui keberadaan grup tersebut, sempat berupaya menyelesaikan masalah melalui jalur mediasi yang difasilitasi oleh seniornya.
Namun, Alfian Helmi menjelaskan bahwa proses mediasi awal tersebut dinilai belum sepenuhnya memberikan rasa keadilan bagi korban. Kondisi ini mendorong korban untuk melaporkan insiden ini secara resmi ke Fakultas Teknik dan Teknologi (FTT) IPB University pada 15 April 2026, seperti dikutip dari chapnews.id, Kamis (16/4).
IPB University berkomitmen penuh untuk memastikan penanganan kasus berjalan dengan baik. Sejumlah komitmen telah ditegaskan pihak kampus sebagai bentuk tanggung jawab, antara lain:
- Menempatkan keselamatan dan pemulihan korban sebagai prioritas utama, termasuk penyediaan pendampingan psikologis dan dukungan akademik.
- Menindak tegas setiap pelanggaran kode etik mahasiswa sesuai regulasi yang berlaku.
- Menjamin penanganan kasus yang objektif, transparan, dan akuntabel.
- Mencegah segala bentuk intimidasi, tekanan, atau stigma terhadap korban dan pelapor.
- Memperkuat edukasi serta budaya kampus yang menjunjung tinggi kesetaraan dan martabat setiap individu.
Sejak laporan resmi diterima, IPB telah mengambil langkah-langkah penanganan. Ini meliputi penelusuran fakta, pemanggilan pihak-pihak terkait, pengamanan bukti-bukti relevan, serta pengaktifan mekanisme penanganan pelanggaran kode etik di tingkat fakultas maupun institusi.
"IPB University mengimbau semua pihak untuk menahan diri dan menghormati proses penanganan yang sedang berjalan agar kasus ini dapat terselesaikan dengan baik," ujar Alfian. Ia juga mengajak seluruh warga kampus untuk bersama-sama menjaga lingkungan akademik yang aman, inklusif, dan saling menghargai, menegaskan bahwa kampus adalah ruang belajar yang harus bebas dari segala bentuk kekerasan dan diskriminasi.
Sebelumnya, jagat media sosial dihebohkan oleh tangkapan layar percakapan grup yang diduga melibatkan mahasiswa Teknik Mesin dan Biosistem IPB. Sejumlah unggahan di platform X menunjukkan percakapan yang memuat kata-kata sensitif dan merendahkan bagian tubuh perempuan, memicu dugaan pelecehan seksual. Menanggapi hal ini, pihak kampus segera melakukan investigasi.
Alfian Helmi menegaskan bahwa IPB University mengecam keras perilaku yang merendahkan harkat dan martabat manusia, dan saat ini sedang mendalami kasus dugaan pelecehan seksual yang menjadi perbincangan publik tersebut.



