Ads - After Header

Ahmad Dewatara

Detik-detik Mencekam: Soekarno Nyaris Terbunuh Saat Salat!

Chapnews – Nasional – Sejarah mencatat sebuah insiden mengerikan yang nyaris merenggut nyawa Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, saat ia tengah menunaikan salat Iduladha. Peristiwa yang terjadi pada 14 Mei 1962, bertepatan dengan 10 Zulhijah 1381 H, di Istana Merdeka, Jakarta, bukan hanya menjadi salah satu momen paling menegangkan dalam sejarah kepresidenan Indonesia, tetapi juga pemicu lahirnya satuan pengamanan khusus presiden yang kini kita kenal.

Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Di tengah kekhusyukan ribuan jemaah yang memenuhi lapangan Istana Kepresidenan, termasuk Presiden Soekarno dan sejumlah menteri, suasana mendadak pecah oleh suara letusan senapan. Insiden ini terjadi saat jemaah berada dalam posisi gerakan rukuk. Kekacauan tak terhindarkan, jemaah yang semula berbaris rapi seketika panik dan berhamburan.

Berdasarkan penuturan dalam buku "Detik-detik Paling Menegangkan" karya Moehammad Goenawan yang diterbitkan pada tahun 2015, tembakan pertama meleset dari target utama, justru mengenai Ketua DPRGR, Zainul Arifin, yang kala itu berada di barisan jemaah. Menariknya, beberapa sumber lain, termasuk situs PDI Perjuangan Jawa Timur, menyebut Zainul Arifin saat itu bertindak sebagai imam salat.

Para pengawal presiden dengan sigap membentuk barikade manusia untuk melindungi Bung Karno. Namun, tembakan kedua kembali dilepaskan, menembus dada Amoen, seorang pengawal yang tanpa ragu melindungi Bung Karno dengan tubuhnya. Tak berhenti di situ, tembakan berikutnya kembali mengancam, kali ini menyerempet kepala Soesilo. Meski terluka, Soesilo bersama dua pengawal lainnya dengan gagah berani menerjang sang penembak. Berkat kesigapan dan keberanian mereka, Amoen dan Soesilo berhasil selamat dari luka-luka serius.

Kisah dramatis ini juga diperkuat oleh penuturan H. Maulwi Saelan, Wakil Komandan Tjakrabirawa, dalam autobiografinya "Kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa: Dari Revolusi 45 Sampai Kudeta 66." Maulwi Saelan menjelaskan bahwa penembak berada dalam jarak yang sangat dekat, hanya sekitar empat shaf dari posisi Soekarno. Saat diinterogasi, pelaku mengaku melihat dua sosok Bung Karno, yang membuatnya kebingungan dalam menentukan sasaran tembak. Maulwi Saelan sendiri dikenal sebagai mantan kiper Timnas Sepakbola Indonesia yang berlaga di Olimpiade 1956.

Insiden mengerikan di hari raya Iduladha itu sontak memicu Jenderal Abdul Haris Nasution, yang saat itu menjabat Menteri Pertahanan dan Keamanan Negara, untuk mengusulkan pembentukan resimen kawal khusus. Usulan ini bertujuan untuk menjaga keselamatan dan keamanan pribadi presiden beserta keluarganya secara lebih terstruktur. Usulan tersebut disetujui, dan lahirlah Resimen Tjakrabirawa. Nama "Tjakrabirawa" diambil dari nama senjata tokoh pewayangan Kresna, yang dalam bahasa Sansekerta berarti "lingkaran dahsyat." Resimen ini, yang diisi oleh prajurit-prajurit terbaik dari TNI Angkatan Darat, Laut, Udara, serta Kepolisian, ditugaskan secara khusus untuk menjaga keselamatan kepala negara dan keluarganya.

Maulwi Saelan sendiri memainkan peran krusial dalam pembentukan Tjakrabirawa. Ia dipindahkan dari Makassar ke Jakarta secara khusus untuk tugas mulia ini, sebagaimana ia kisahkan dalam bukunya. Dengan demikian, peristiwa Iduladha 1962 bukan sekadar catatan kelam dalam sejarah bangsa, melainkan juga tonggak penting yang membentuk sistem pengamanan presiden yang kita kenal hingga hari ini.


Also Read

Bagikan:

Ahmad Dewatara

kontributor di ChapNews yang berfokus pada liputan dan analisis Olahraga. Ia secara rutin menyajikan berita terkini, ulasan pertandingan, dan spekulasi transfer di dunia sepak bola global maupun nasional, memberikan pandangan yang tajam bagi para penggemar olahraga.

Tags

Tinggalkan komentar

Ads - Before Footer