Ads - After Header

Penyelamat di Tengah Kemarau: Air Masjid Jadi Harapan!

Ahmad Dewatara

Chapnews – Nasional – Di tengah teriknya kemarau panjang yang melanda, Masjid Jami Al Ihsan di Desa Kertanegla, Kecamatan Bojonggambir, Kabupaten Tasikmalaya, telah bertransformasi dari sekadar tempat ibadah menjadi denyut nadi kehidupan bagi ratusan keluarga. Sejak akhir April lalu, ketika sumur-sumur warga mengering, air dari masjid inilah yang menjadi satu-satunya sumber harapan untuk bertahan hidup.

Setiap pagi dan sore, halaman Masjid Jami Al Ihsan dipenuhi pemandangan puluhan jeriken dan galon yang tersusun rapi. Warga dari Dusun Cipari dan Dusun Cipatat rela mengantre dengan sabar demi mendapatkan pasokan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari, mulai dari memasak hingga mandi. Kekeringan ekstrem yang melanda wilayah ini telah membuat sumur-sumur tradisional tak lagi mengeluarkan air, memaksa mereka bergantung sepenuhnya pada sumber air masjid.

Penyelamat di Tengah Kemarau: Air Masjid Jadi Harapan!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

"Dulu, paling dalam tiga meter sudah keluar air. Sekarang, digali sepuluh meter pun tak ada. Kami terpaksa setiap hari ke masjid," ungkap Dedeh Rohayati, seorang warga Dusun Cipari, mengutip chapnews.id. Senada dengan Dedeh, Yayah, warga lainnya, juga merasakan dampak parah kekeringan. "Sudah hampir dua bulan tanpa hujan deras, semua sumber air di sekitar rumah kami kering total. Sumber air dari gunung kini hanya mengalir ke masjid," tambahnya.

Kondisi ini sempat menimbulkan dilema bagi pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM). Di satu sisi, mereka ingin membantu masyarakat yang sangat membutuhkan. Namun di sisi lain, ketersediaan air untuk keperluan ibadah juga harus tetap terjaga.

Ketua DKM Masjid Jami Al Ihsan, Uun Suhendar, menjelaskan bahwa pihaknya akhirnya memutuskan untuk tetap membuka akses air bagi warga, namun dengan sejumlah aturan. "Memang ada kekhawatiran air untuk wudu terbatas. Tapi bagaimana lagi, ini kebutuhan dasar masyarakat. Kami izinkan, dengan batasan pengambilan dihentikan sepuluh menit sebelum azan salat lima waktu berkumandang," ujar Uun. Selain itu, setiap keluarga hanya diperbolehkan mengambil dua hingga tiga jeriken air per hari untuk memastikan semua warga mendapat bagian.

Menurut data Pemerintah Desa Kertanegla, sekitar 600 hingga 700 kepala keluarga di dua dusun tersebut terdampak langsung krisis air bersih ini. Kepala Desa Kertanegla, Bunyamin, menegaskan bahwa kekeringan bukanlah persoalan baru di wilayahnya. "Setiap musim kemarau, Dusun Cipari dan Cipatat selalu mengalami krisis air. Sumber air satu-satunya disalurkan ke masjid," jelasnya.

Pemerintah desa telah melaporkan kondisi darurat ini kepada Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya dan berharap bantuan distribusi air bersih dari BPBD segera tiba. Namun, hingga kini, bantuan tangki air yang dinantikan warga belum juga menunjukkan tanda-tanda kedatangan.

Selain bantuan darurat, warga juga sangat berharap adanya solusi permanen untuk mengatasi persoalan kekeringan yang terus berulang setiap tahun. "Kami butuh bantuan sekarang juga, dan yang lebih penting, bantuan permanen seperti pembangunan sumur bor agar kebutuhan air warga terjaga," pinta Bunyamin.

Selama hujan belum kembali turun dan sumber-sumber air belum menunjukkan tanda-tanda akan mengalir lagi, Masjid Jami Al Ihsan akan terus menjadi simbol ketahanan dan harapan bagi warga Desa Kertanegla. Tempat yang selama ini menjadi ruang untuk bersujud itu, kini juga menjadi oase terakhir bagi ratusan keluarga untuk bertahan menjalani hari-hari yang penuh tantangan.

Also Read

Bagikan:

Ahmad Dewatara

kontributor di ChapNews yang berfokus pada liputan dan analisis Olahraga. Ia secara rutin menyajikan berita terkini, ulasan pertandingan, dan spekulasi transfer di dunia sepak bola global maupun nasional, memberikan pandangan yang tajam bagi para penggemar olahraga.

Tags

Tinggalkan komentar

Ads - Before Footer