Chapnews – Ekonomi – JAKARTA – Isu melemahnya daya saing industri nasional dan ancaman Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang menghantui sektor ini ternyata bukan semata-mata dipicu oleh harga gas. Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan, Said Iqbal, menegaskan bahwa ada serangkaian faktor kompleks lain yang turut berkontribusi besar terhadap tekanan yang dihadapi industri Tanah Air.
Said Iqbal mengakui kekhawatiran para pelaku industri, terutama yang sangat bergantung pada energi seperti gas, memang patut diperhatikan. Kenaikan harga energi, menurutnya, adalah konsekuensi tak terhindarkan dari dinamika geopolitik global. Namun, ia menekankan bahwa energi bukanlah satu-satunya variabel penentu melonjaknya biaya produksi.

"Faktor krusial lainnya adalah melemahnya daya beli masyarakat," ujar Said Iqbal pada akhir pekan lalu. Ia menjelaskan, penurunan daya beli secara langsung berakibat pada merosotnya permintaan barang, yang kemudian menekan volume produksi. "Penurunan produksi ini pada akhirnya memicu langkah efisiensi, dan ujung-ujungnya adalah PHK," tambahnya, menggambarkan rantai dampak ekonomi yang saling terkait.
Selain itu, fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga menjadi momok bagi industri. Said Iqbal menyoroti bagaimana perusahaan yang masih mengandalkan bahan baku impor harus menanggung beban lebih. "Mereka membeli bahan baku dengan dolar, sementara produk jadinya dijual dalam rupiah. Situasi ini jelas sangat merugikan perusahaan," jelasnya, menggarisbawahi tantangan bagi keberlanjutan operasional.
Menyikapi kompleksitas masalah ini, pemerintah bersama para pemangku kepentingan kini tengah berupaya merumuskan solusi komprehensif. Fokus utama diberikan pada industri-industri yang secara spesifik meminta dukungan kebijakan, seperti sektor granit, keramik, dan tekstil, yang belakangan menghadapi tantangan berat dalam menjaga daya saing dan kelangsungan usaha mereka.

