Ads - After Header

Nakes Cibir Pasien BPJS Hingga Meninggal, Kini Minta Maaf!

Ahmad Dewatara

Chapnews – Nasional – Gelombang kecaman publik tak terbendung setelah sejumlah tenaga kesehatan (nakes) yang sebelumnya melontarkan komentar tak berempati terhadap pasien BPJS Kesehatan, Yurizal Tri Chaerawan, di platform media sosial Threads, kini beramai-ramai menyampaikan permohonan maaf. Insiden ini mencuat setelah Yurizal, yang mengeluhkan lamanya menunggu ruang rawat inap, meninggal dunia tak lama setelah unggahannya menjadi sorotan.

Kisah bermula ketika Yurizal membagikan pengalamannya di Threads, mengeluhkan belum mendapatkan kamar rawat inap setelah delapan jam menunggu, dan ia merasa hal itu terkait status kepesertaannya sebagai pasien BPJS. Alih-alih mendapat simpati, unggahan tersebut justru dibanjiri respons sinis dan kurang etis dari sejumlah akun yang diyakini milik dokter dan nakes.

Nakes Cibir Pasien BPJS Hingga Meninggal, Kini Minta Maaf!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Situasi memanas ketika kabar duka menyelimuti keluarga Yurizal. Pasien tersebut dilaporkan wafat pada 31 Juli 2026, hanya sembilan hari setelah keluhannya diunggah. Kematian Yurizal sontak memicu kemarahan warganet, yang kemudian kembali mengungkit dan mengecam komentar-komentar tak pantas dari para nakes. Publik secara luas menuntut penegakan etika dan empati, terutama bagi para profesional di bidang kesehatan, baik dalam pelayanan langsung maupun interaksi di media sosial.

Menanggapi gelombang kritik tersebut, satu per satu nakes yang terlibat mulai menyampaikan penyesalan dan permohonan maaf. Berikut adalah daftar para nakes yang telah meminta maaf:

1. Dr. Beni Christian Sihombing
Salah satu yang paling disorot adalah dr. Beni Christian Sihombing, yang bertugas di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ruteng, Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia menanggapi keluhan Yurizal dengan nada sarkas, menyarankan agar pasien mencari ruang jenazah jika ingin cepat mendapat tempat. Komentar bernada "Kalau mau pindah cepat, noh ruang jenazah selalu kosong" itu memicu kemarahan luas. Melalui akun media sosialnya, Beni secara terbuka meminta maaf, mengakui kesalahannya, dan menyatakan kesiapan untuk menerima segala konsekuensi hukum maupun sanksi dari institusi terkait seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK).

2. Hilda Clarissa Theopilus
Senada dengan Beni, Hilda Clarissa Theopilus dari RSUD Umbu Rara Meha, NTT, juga melontarkan komentar serupa mengenai ketersediaan kamar jenazah. Ia menulis, "Yang selalu kosong ada noh, kamar jenazah." Hilda kemudian mengunggah permintaan maaf, mengakui bahwa reaksinya lahir dari emosi yang berujung pada saling menyakiti, dan menyampaikan penyesalan atas ucapannya.

3. Dr. Elda Putri Rahardini
Dr. Elda Putri Rahardini, seorang alumni universitas terkemuka dan penerima beasiswa LPDP, turut menjadi sorotan. Komentarnya yang merendahkan, "PP-nya kayak orang Have tapi aslinya Haven’t kah? Haven’t some brain cells," menuai kecaman. Elda menyampaikan penyesalan mendalam, mengakui bahwa ucapannya tidak etis, tidak pantas, dan jauh dari empati, terutama mengingat kondisi sulit yang dialami almarhum saat mencari penanganan medis. Ia juga meminta maaf sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang tersinggung.

4. Dr. Renanda Maulidya Fadyla
Komentar singkat namun tajam juga datang dari dr. Renanda Maulidya Fadyla sebagai pemilik akun Threads @nandafadyla_, yang bekerja di RSUD IA Moeis Samarinda. Ia melontarkan kalimat "Bacot nih pasien." Setelah insiden ini, pihak rumah sakit memanggilnya dan menjatuhkan sanksi internal sesuai ketentuan disiplin pegawai. Dr. Renanda juga telah menyampaikan permohonan maaf kepada pihak RS.

5. Herdiana Ayu Saputri
Herdiana Ayu Saputri, seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, juga membuat komentar bernada sinis, "yurizal yurizal, kau masuklah ke triase merah dulu zal, nanti cepet kau dapat kamar. Lengkap dengan ventilator dan monitornya bunyi ‘tit tit…tit..titt..’. Dingin bgt kamarnya zal, bs pake bpjs." Meskipun sempat berkilah bahwa komentar tersebut ditulis oleh suaminya, Herdiana akhirnya menyampaikan permohonan maaf atas unggahan yang memicu kemarahan warganet.

6. Dr. Tamara Dewi Jasmine
Terakhir, dr. Tamara Dewi Jasmine dari Rumah Sakit (RS) Pusri Palembang juga ikut mencibir dengan menyarankan pasien untuk "Mending banyakin duit halal daripada banyakin bacot. Biar bisa bayar dan merasakan asuransi swasta. Dan bisa berpendidikan biar akhlak tidak minus, dan tidak playing victim." Melalui sebuah video, Tamara menyampaikan permohonan maaf yang tulus kepada Tuhan, warganet, masyarakat Indonesia, serta institusi yang terdampak. Ia menegaskan bahwa tulisannya murni berasal dari dirinya sendiri dan menjadikannya pelajaran berharga untuk perbaikan di masa depan.

Kasus ini menjadi pengingat keras akan pentingnya menjaga etika dan empati, terutama bagi mereka yang berprofesi di bidang kesehatan. Interaksi di media sosial, sekalipun dianggap personal, dapat memiliki dampak luas dan merusak kepercayaan publik terhadap profesi mulia ini. Permohonan maaf yang disampaikan para nakes diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk memulihkan citra dan memastikan pelayanan kesehatan yang lebih manusiawi di masa mendatang.

Also Read

Bagikan:

Ahmad Dewatara

kontributor di ChapNews yang berfokus pada liputan dan analisis Olahraga. Ia secara rutin menyajikan berita terkini, ulasan pertandingan, dan spekulasi transfer di dunia sepak bola global maupun nasional, memberikan pandangan yang tajam bagi para penggemar olahraga.

Tags

Tinggalkan komentar

Ads - Before Footer