Chapnews – Nasional – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) membawa kabar yang dinanti-nanti sebagian warga Kalimantan Barat: potensi hujan sporadis di beberapa wilayah pada awal September ini. Namun, harapan akan meredanya kabut asap akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) masih diiringi kewaspadaan tinggi, mengingat 30 titik api dilaporkan masih aktif membara di Bumi Khatulistiwa.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (1/9), menjelaskan bahwa perkiraan BMKG menunjukkan adanya peluang hujan dengan intensitas sporadis antara tanggal 1 hingga 7 September. "BMKG memperkirakan potensi hujan dengan intensitas sporadis di sebagian wilayah Kalimantan Barat akan ada pada tanggal-tanggal 1 sampai 7 September ini," ujar Berton. Ia menambahkan, hujan sporadis merujuk pada curah hujan yang tidak merata atau hanya berlangsung sesaat, memberikan jeda namun belum tentu solusi permanen.

Menyikapi prakiraan ini, BNPB menyatakan kesiapannya untuk mengoptimalkan potensi hujan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Strategi ini diharapkan dapat "memancing" jatuhnya hujan agar lebih efektif dalam membasahi lahan gambut yang rentan terbakar. "Jadi ini kalau sudah ada nanti potensi ini tentu kami juga akan memanfaatkan ini mengoptimalkan jatuhnya hujan melalui OMC," jelas Berton. Sebelumnya, satu kali operasi OMC telah dilaksanakan dengan menaburkan 1.600 kg garam, dan BNPB berharap adanya rekomendasi lebih lanjut dari BMKG untuk intensifikasi operasi udara serupa.
Kendati ada harapan hujan, situasi Karhutla di Kalimantan Barat masih memerlukan perhatian serius. BNPB memonitor adanya 30 titik api (firespot) yang hingga kini masih menyala. Dampaknya terasa langsung pada kualitas udara, yang secara umum dikategorikan berbahaya, serta jarak pandang yang anjlok di bawah 1 kilometer di beberapa area. Kondisi ini tentu sangat mengganggu aktivitas masyarakat dan membahayakan kesehatan.
Satuan tugas gabungan terus berupaya melakukan pemadaman dan penanganan Karhutla, baik melalui operasi udara maupun darat secara terpadu. Namun, sejumlah kendala signifikan masih menjadi tantangan. Berton merinci, "operasi masih menghadapi kendala berupa tingkat daya lihat yang masih rendah, visibilitas yang rendah, kemudian lahan gambut yang sulit dipadamkan, dan keterbatasan sumber air." Kombinasi faktor ini membuat upaya pemadaman menjadi kompleks dan membutuhkan strategi jangka panjang.


