Chapnews – Ekonomi – Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, baru-baru ini menyoroti sebuah fenomena menarik di kancah energi global. Ia mengungkapkan bahwa negara-negara yang gencar memanfaatkan Energi Baru Terbarukan (EBT) dalam skala besar justru menikmati harga energi yang relatif lebih murah dibandingkan dengan negara yang masih didominasi oleh energi tak terbarukan. Pernyataan ini disampaikan Yuliot dalam paparannya pada ajang Indo EBTKE ConEx and Exhibition ke-12 di JIExpo Kemayoran, Rabu lalu.
Menurut Yuliot, kondisi ini bukan sekadar isu transisi energi semata, melainkan juga memiliki dampak signifikan terhadap harga listrik dan daya saing industri. Industri di suatu negara cenderung akan tumbuh lebih cepat dan berkembang pesat jika biaya energi dapat ditekan serendah mungkin.

"Negara-negara yang memanfaatkan energi baru terbarukan dengan kapasitas yang cukup besar, harga energinya itu justru sangat rendah. Sementara negara-negara yang lebih dominan menggunakan bahan bakar yang tidak terbarukan, itu justru harga energinya relatif lebih besar," jelas Yuliot, menegaskan argumennya di hadapan para peserta pameran.
Sebagai contoh nyata, Yuliot menunjuk Pakistan. Berdasarkan data yang dipaparkannya, kapasitas terpasang listrik di Pakistan mencapai sekitar 50 GW. Dari total tersebut, porsi EBT sangat dominan, dengan sekitar 17 GW berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dan lebih dari 17 GW lainnya disumbang oleh Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).
Dengan komposisi energi yang didominasi oleh sumber terbarukan tersebut, Yuliot menyebutkan bahwa harga listrik yang dijual kepada masyarakat Pakistan tergolong sangat rendah, yakni hanya sekitar 6 sen dolar AS per kWh. Angka ini jauh lebih kompetitif dibandingkan banyak negara yang masih bergantung pada bahan bakar fosil.
"Dengan murahnya harga listrik di Pakistan, industri-industri manufaktur di Pakistan itu justru dikerjakan oleh masyarakat, skalanya adalah usaha mikro kecil," ungkap Yuliot, menyoroti dampak positif dari energi murah.
Yuliot menyimpulkan bahwa ada keterkaitan erat antara ketersediaan energi yang terjangkau dengan geliat aktivitas ekonomi dan industri. Harga energi yang lebih murah dapat membuka ruang yang lebih luas bagi masyarakat untuk mengembangkan kegiatan manufaktur, termasuk usaha berskala kecil dan menengah, yang pada akhirnya akan mendorong pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.


