Chapnews – Nasional – Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya dengan erupsi berulang sejak Jumat (4/9) hingga Sabtu (5/9) dini hari di Selat Sunda. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperingatkan bahwa semburan asap tebal yang membumbung tinggi, diperkirakan mencapai belasan kilometer, berpotensi menyebar hingga ke negara-negara tetangga, khususnya yang beriklim subtropis.
Prof. Dr. Erma Yulihastin, peneliti senior dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, menjelaskan bahwa ketebalan asap yang terpantau satelit menunjukkan letusan yang signifikan. "Kalau sampai secoklat ini terpantau satelit padahal di atas lautan, berarti letusannya tebal nih," ujar Erma melalui akun X pada Sabtu (5/9). Ia mengestimasi ketinggian kolom erupsi mencapai 13 kilometer, hampir menembus lapisan tropopause.

Erma menekankan pentingnya antisipasi, baik oleh pemerintah Indonesia maupun negara-negara tetangga. Menurutnya, semburan kolom hingga tropopause sangat berbahaya karena adanya sirkulasi Hadley. "Sirkulasi Hadley memungkinkan apa yang disemburkan di wilayah khatulistiwa bisa ditransfer ke negara-negara subtropis," tambahnya, menggarisbawahi potensi jangkauan asap vulkanik tersebut.
Sementara itu, dampak erupsi juga dirasakan langsung oleh warga sekitar. Fauzan, warga Kampung Baru, Kecamatan Labuan, Pandeglang, mengaku merasakan getaran terus-menerus sejak dini hari pada Sabtu (5/9). Intensitas getaran semakin kuat, bahkan pintu rumahnya bergetar seperti ada yang berusaha membukanya secara paksa, seperti yang ia tunjukkan dalam video yang dibagikannya kepada chapnews.id.
Gunung Anak Krakatau dilaporkan mengalami erupsi yang disertai gemuruh dan fenomena lava fountain (air mancur lava). Saat ini, status gunung api tersebut masih berada pada level Siaga (Level III), dan masyarakat diimbau untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.
Berdasarkan laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang dirilis melalui situs magma.esdm.go.id, pengamatan per enam jam (00.00-06.00 WIB, Sabtu 5/9) menunjukkan cuaca berawan hingga mendung dengan angin lemah hingga sedang bergerak ke arah barat laut. Pengamat gunung api Rioboniek Situmorang dalam laporannya menyebutkan, "Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut 0-III. Asap kawah tidak teramati." Perlu dicatat, laporan ini mengacu pada pengamatan visual dalam rentang waktu tersebut, sementara prediksi BRIN didasarkan pada analisis awal kolom erupsi yang sangat tebal dan potensinya untuk menyebar lebih jauh.


