Chapnews.id – Suasana di Kota Palembang, Sumatera Selatan, mendadak berubah mencekam pada Kamis (22/10). Langit yang biasanya cerah kini tertutup oleh selimut kabut asap tebal yang menyelimuti hampir seluruh sudut kota. Fenomena ini merupakan dampak langsung dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tengah melanda wilayah sekitarnya, menciptakan situasi yang mengkhawatirkan bagi kesehatan masyarakat.
Pantauan di lapangan menunjukkan bahwa jarak pandang di jalan-jalan protokol kota Palembang menjadi sangat terbatas. Warna langit yang semula biru kini berubah menjadi abu-abu kusam, menciptakan atmosfer yang suram dan menyesakkan. Tidak hanya pemandangan yang terganggu, aroma asap yang menyengat juga merasuk hingga ke dalam rumah-rumah warga, membuat aktivitas luar ruangan menjadi sangat tidak nyaman.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, kabut asap pekat yang menyelimuti ibu kota provinsi ini diduga kuat berasal dari peningkatan titik api yang signifikan di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Wilayah tersebut tengah berjuang melawan kobaran api di lahan gambut yang membuat asap terbang terbawa angin menuju arah Palembang. Kondisi ini membuat kualitas udara di wilayah Sumatera Selatan merosot tajam ke level yang tidak sehat.
Dampak kesehatan mulai dirasakan secara masif oleh penduduk setempat. Sejumlah warga melaporkan mulai merasakan gejala gangguan pernapasan. Keluhan yang paling umum adalah mata yang terasa perih dan merah, tenggorokan gatal, hingga batuk yang disertai gejala flu. Bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit asma, kondisi ini menjadi ancaman yang sangat serius.
"Udara terasa sangat berat dan bau asapnya tidak hilang-hilang meski sudah di dalam ruangan. Mata saya juga terasa sangat perih kalau keluar sebentar saja," ujar salah seorang warga yang mengeluhkan kondisi udara tersebut.
Menanggapi situasi ini, para ahli kesehatan mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Penggunaan masker, terutama masker medis atau masker N95, sangat disarankan saat harus beraktivitas di luar rumah guna menyaring partikel asap yang berbahaya bagi paru-paru. Selain itu, warga diminta untuk memperbanyak konsumsi air putih dan membatasi aktivitas fisik di luar ruangan selama kabut asap masih menyelimuti kota.
Hingga berita ini diturunkan, upaya pemadaman di titik-titik api masih terus dilakukan oleh tim gabungan dari BPBD, Manggala Agni, dan relawan setempat. Namun, tantangan cuaca kering dan kondisi lahan yang sulit membuat api sulit untuk sepenuhnya dikendalikan. Masyarakat berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah darurat untuk mengatasi krisis kualitas udara ini sebelum dampak kesehatan menjadi lebih luas dan fatal. Melansir laporan dari chapnews.id, pemantauan titik panas secara intensif terus dilakukan guna meminimalisir penyebaran asap lebih lanjut.


