Chapnews – Ekonomi – Pemerintah Indonesia bersiap menggarap harta karun yang selama ini menjadi incaran dunia: mineral logam tanah jarang (Rare Earth Element/REE). Proyek ambisius ini diwujudkan melalui pengembangan Pilot Plan Logam Tanah Jarang di Tanjung Ular, Kabupaten Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung. PT Timah, berkolaborasi dengan MIND ID (Holding Industri Pertambangan Indonesia), memimpin upaya percepatan pengembangan REE ini. Fokus utama: revitalisasi fasilitas pilot plant pengolahan monasit untuk mendukung pengembangan REE.
Pengembangan Pilot Plan ini bertujuan menciptakan nilai tambah melalui industrialisasi REE berbasis mineral ikutan penambangan timah. Langkah ini sejalan dengan strategi hilirisasi mineral nasional, sekaligus mendorong kemandirian teknologi dan ekonomi Indonesia. REE sangat krusial bagi industri strategis seperti magnet permanen, baterai hybrid, elektronik, dan katalis.

Wakil Direktur Utama MIND ID, Dany Amrul Ichdan, menyatakan, "Dalam rangka mengakselarasi pengembangan mineral logam tanah jarang atau Rare Earth Element (REE)," Ia menambahkan bahwa Grup MIND ID melalui PT Timah mengelola cadangan REE yang langka di dunia. Kemampuan Indonesia untuk memproses REE di dalam negeri akan memberikan nilai tambah signifikan bagi perekonomian dan masyarakat. "Dengan pengembangan rare earth ini, kami yakin Indonesia mampu menjadi basis bagi pengembangan ekosistem industri strategis masa depan," tegas Dany.
Target percepatan produksi REE juga menjadi fokus utama. Direktur Pengembangan Usaha PT Timah, Dicky Octa Zahriadi, mengungkapkan bahwa pada tahun 2024, pencarian mitra teknologi menjadi prioritas untuk mempercepat pemrosesan monasit menjadi produk Mix Rare Earth Carbonate. Langkah ini merupakan tahap awal sebelum pembangunan pabrik komersial. Kerja sama dengan berbagai lembaga teknologi dalam dan luar negeri pun telah terjalin untuk mendukung pengembangan teknologi pengolahan monasit.
Lebih lanjut, Dicky menjelaskan bahwa REE mengandung thorium, yang berpotensi dioptimalkan sebagai sumber energi untuk Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Pemanfaatan thorium ini akan semakin meningkatkan nilai tambah pengolahan logam tanah jarang dan mendorong kemandirian energi Indonesia.



