Chapnews – Ekonomi – Emas dan uranium, dua komoditas berharga yang terpendam di bawah tanah Kashmir, menjadi pemicu konflik berkepanjangan antara India dan Pakistan. Wilayah Himalaya seluas 222.738 km persegi ini, dengan keindahan danau, padang rumput, dan pegunungan bersalju, menyimpan kekayaan alam yang luar biasa, namun juga menjadi sumber perselisihan yang tak kunjung usai.
Jauh sebelum kemerdekaan India dan Pakistan dari Inggris pada Agustus 1947, perebutan wilayah Kashmir telah terjadi. Ketegangan kembali memuncak pasca serangan militan pada April 2025 yang menewaskan 26 wisatawan di Pahalgam, wilayah Kashmir yang dikuasai India. India menuding Pakistan mendukung kelompok militan, tuduhan yang dibantah Islamabad. Insiden ini hampir membawa kedua negara nuklir tersebut ke jurang perang.

Kashmir, yang terletak di utara sub-benua India, mencakup wilayah Jammu, Kashmir, dan Ladakh. Konflik berakar dari pembagian India pada 1947, di mana Maharaja Kashmir yang beragama Hindu memilih bergabung dengan India, meskipun mayoritas penduduknya Muslim. Keputusan ini memicu Perang India-Pakistan pertama (1949), yang menghasilkan Line of Control (LoC) – garis gencatan senjata yang membagi Kashmir.
Namun, LoC tak mampu meredam konflik. Perang-perang berikutnya terjadi pada 1965, 1971, dan 1999. Saat ini, Kashmir menjadi salah satu wilayah paling termiliterisasi di dunia, dengan India, Pakistan, dan bahkan China mengklaim sebagian wilayahnya. Populasi Kashmir terbagi: sekitar 10 juta di Jammu dan Kashmir (India), 4,5 juta di Kashmir (Pakistan), dan 1,8 juta di Gilgit-Baltistan (Pakistan). Kekayaan alam yang melimpah, khususnya emas dan uranium, semakin memperumit situasi dan menjadi taruhan tinggi dalam perselisihan geopolitik yang kompleks ini. Perang dingin atas harta karun terpendam ini terus berlangsung, mengancam perdamaian regional.



