Chapnews – Ekonomi – Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, sebelumnya telah mengusulkan penambahan kapal di lintasan penyeberangan Ketapang-Gilimanuk kepada Kementerian Perhubungan. Langkah ini diambil merespon antrean panjang kendaraan yang terjadi setelah 15 kapal jenis Landing Craft Tank (LCT) dihentikan operasinya. Namun, pandangan berbeda justru datang dari Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (Gapasdap).
Ketua Bidang Tarif dan Usaha DPP Gapasdap, Rahmatika, menilai permintaan penambahan kapal tersebut kurang tepat sasaran. Menurutnya, masalah utama bukan kekurangan armada, melainkan terbatasnya jumlah dermaga di pelabuhan. "Dari 56 kapal yang tersedia, hanya 28 yang bisa beroperasi karena keterbatasan dermaga," tegas Rahmatika dalam keterangan tertulisnya, Senin (28/7/2026). Ia menambahkan, penambahan kapal justru akan memperparah kemacetan karena kapal-kapal tersebut akan menganggur menunggu sandar.

Rahmatika menekankan, "Penambahan kapal tidak otomatis menambah kapasitas angkut, malah menimbulkan antrean panjang karena kekurangan dermaga." Sebagai solusi, ia menyarankan agar fokus pengembangan infrastruktur pelabuhan diarahkan pada pembangunan dermaga tambahan. "Minimal dua pasang, maksimal lima pasang dermaga baru dibutuhkan untuk mengakomodasi 28 kapal yang saat ini menganggur," usulnya. Dengan penambahan tiga pasang dermaga saja, kapasitas operasional kapal bisa meningkat signifikan.
"Ngapain tambah kapal? Ekonomi kita masih sulit," pungkas Rahmatika, menyoroti pentingnya efisiensi dan efektivitas anggaran. Pernyataan ini menggarisbawahi perlunya evaluasi menyeluruh terhadap solusi mengatasi kemacetan di jalur penyeberangan vital tersebut.


