Chapnews – Nasional – Tragedi gempa bumi yang melanda Nusa Tenggara Timur (NTT) terus menyisakan duka mendalam bagi masyarakat. Data terbaru menunjukkan, jumlah korban meninggal dunia kini mencapai 91 jiwa, melonjak empat orang dari laporan sebelumnya. Selain itu, ribuan warga juga mengalami luka-luka akibat bencana alam ini.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, dalam konferensi pers yang disiarkan melalui kanal YouTube BNPB, Minggu (23/8), mengungkapkan peningkatan angka korban ini. "Jumlah korban meninggal sebanyak 91 jiwa atau bertambah 4 jiwa dari hari sebelumnya," ujarnya, seperti dikutip dari chapnews.id.

Rincian korban meninggal dunia tersebar di beberapa kabupaten/kota, menunjukkan luasnya dampak gempa. Kabupaten Manggarai mencatat angka tertinggi dengan 32 jiwa, disusul Manggarai Timur 31 jiwa. Sementara itu, Sikka melaporkan 6 jiwa, Nagekeo 14 jiwa, Ngada 5 jiwa, Ende 2 jiwa, dan Manggarai Barat 1 jiwa.
Berton juga merinci data korban berdasarkan jenis kelamin dan kelompok usia. Dari total korban meninggal, 40 jiwa berjenis kelamin laki-laki dan 48 jiwa perempuan, sementara identitas 3 korban lainnya masih dalam proses identifikasi. Lebih lanjut, 39 korban adalah lansia, 4 batita, 1 balita, 12 anak dan remaja, serta 35 dewasa.
Fakta mengejutkan terungkap mengenai penyebab kematian. Sebanyak 51 persen korban meninggal dunia diakibatkan dampak langsung gempa, seperti tertimpa reruntuhan bangunan. Sisanya, 49 persen, meninggal karena dampak tidak langsung dari bencana tersebut.
Selain korban jiwa, ancaman gempa susulan juga masih menghantui. BNPB mencatat, hingga saat ini telah terjadi 5.688 kali gempa susulan sejak gempa utama. Bahkan, pada hari ini saja, warga merasakan guncangan hingga 130 kali. Magnitude terbesar tercatat 6,2 dan terkecil 1,1. "Rangkaian gempa susulan menunjukkan pola temporal yang belum sederhana," jelas Berton. Ia memperkirakan, aktivitas gempa susulan ini akan berlangsung sekitar 3-4 minggu sejak gempa utama.


