Chapnews – Ekonomi – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan pelemahan signifikan pada penutupan perdagangan Kamis, 27 Agustus 2026. Mata uang Garuda terperosok 19 poin atau sekitar 0,11 persen, mengakhiri hari di level Rp17.744 per dolar AS. Pelemahan ini sebagian besar dipicu oleh sentimen eksternal, terutama harapan akan meredanya ketegangan di Timur Tengah yang berpotensi mempengaruhi pasokan global.
Menurut analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, salah satu pendorong utama sentimen ini adalah adanya prospek pembicaraan antara Iran dan Qatar. Pembicaraan tersebut diharapkan dapat membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang krusial bagi distribusi minyak global, dan secara signifikan mengurangi gangguan pasokan akibat konflik yang berkecamuk di kawasan tersebut.

Ibrahim dalam risetnya yang dikutip oleh chapnews.id menjelaskan, "Hal ini menyusul pernyataan Garda Revolusi Iran bahwa kedua negara telah menyepakati pembagian akses serta pendapatan dari jalur perairan yang menghubungkan negara-negara produsen minyak utama di kawasan Teluk dengan pasar dunia tersebut." Iran dan Oman sendiri sedang dalam tahap finalisasi kesepakatan untuk mengendalikan Selat Hormuz, sebagaimana diungkapkan seorang pejabat senior Iran pada Rabu lalu.
Perdana Menteri Qatar dijadwalkan bertolak ke Iran pada Kamis untuk memulai kembali dialog diplomatik. Langkah ini bertujuan untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung hampir enam bulan. Di sisi lain, Amerika Serikat juga telah menghentikan serangan terhadap Iran selama sekitar satu bulan, seraya meningkatkan tekanan ekonomi. Kebijakan AS ini telah menumbuhkan harapan di kalangan investor akan adanya penurunan gangguan pasokan dari wilayah Teluk yang kaya minyak.
Namun, Ibrahim mengingatkan bahwa posisi kedua belah pihak masih sangat berjauhan terkait tuntutan untuk mengakhiri pertempuran. Iran, dalam upaya menegaskan kendalinya atas jalur perairan strategis tersebut, masih dilaporkan menyerang kapal-kapal di Teluk dan Selat Hormuz, menambah lapisan ketidakpastian di tengah optimisme pasar.


