Chapnews – Nasional – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) membawa kabar yang melegakan bagi masyarakat di wilayah terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau. Hujan diperkirakan akan mengguyur mulai tanggal 9 hingga 12 September, diharapkan mampu meredakan dampak sebaran abu vulkanik yang kini menyelimuti sejumlah area, termasuk Banten hingga Jakarta.
Kepala BMKG, Teuku Faisal, dalam Rapat Terbatas Perkembangan Penanganan Bencana Alam yang digelar secara daring pada Senin (7/9), mengonfirmasi prediksi tersebut. "Kami sudah memantau bahwa kira-kira di tanggal 9 hingga 12 September ini akan ada potensi awan dan juga hujan dengan intensitas ringan hingga sedang khususnya di wilayah terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau," ujarnya.

Tak hanya mengandalkan hujan alami, BMKG juga tengah berkoordinasi erat dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk mengoperasikan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Langkah ini diambil sebagai upaya proaktif untuk mempercepat penanganan sebaran debu vulkanik yang berpotensi mengganggu kesehatan dan aktivitas warga.
Rencana awal pelaksanaan OMC dari Bandara Husein Sastranegara, Bandung, terpaksa ditunda lantaran bandara tersebut turut terdampak abu vulkanik. Oleh karena itu, BMKG kini mempertimbangkan beberapa opsi alternatif, termasuk penggunaan Bandara Kertajati di Majalengka dan Bandara Ahmad Yani di Semarang sebagai basis operasi.
Faisal menambahkan, efektivitas OMC akan jauh lebih optimal jika dilakukan dari posko Bandara Pondok Cabe, Halim Perdanakusuma, atau Kertajati. Lokasi-lokasi ini dinilai strategis karena memiliki jangkauan yang luas untuk mencakup wilayah Jawa Barat, Banten, dan Jakarta yang paling merasakan dampak sebaran abu vulkanik. Ia juga menekankan bahwa semakin jauh lokasi bandara dari Selat Sunda, tempat Gunung Anak Krakatau berada, maka efektivitas OMC akan menurun. Sebagai contoh, jika OMC dilakukan dari Bandara Ahmad Yani, wilayah yang akan merasakan guyuran hujan hanya terbatas pada Jawa Barat bagian timur.


