Chapnews – Nasional – Sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau kembali memicu perdebatan di kalangan pejabat tinggi. Kali ini, dua Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Wamendiktisaintek) menunjukkan pandangan yang kontras mengenai urgensi penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ) di perguruan tinggi yang terdampak.
Wamendiktisaintek Stella Christie, dalam pernyataannya pada Senin (7/9) usai rapat di Komisi X DPR, menegaskan bahwa PJJ belum menjadi keharusan mutlak bagi kampus-kampus. Menurutnya, proses belajar mengajar secara langsung masih lebih efektif, terutama jika kegiatan perkuliahan dilakukan di dalam ruangan. Ia hanya mengimbau agar perguruan tinggi meminimalkan aktivitas di luar gedung atau area terbuka, khususnya di wilayah seperti Jakarta, Banten, dan Lampung.

"Jadi tidak harus daring sama sekali untuk universitas, karena kalau kita belajarnya di dalam," ujar Stella, menekankan bahwa mudarat dari kegiatan luar lebih banyak daripada manfaatnya. Ia menyarankan agar kegiatan mahasiswa di luar ruangan di daerah terdampak sebaiknya ditunda.
Namun, imbauan yang berbeda telah disampaikan oleh Wamendiktisaintek Fauzan sehari sebelumnya, Minggu (6/9). Fauzan secara tegas merekomendasikan agar perguruan tinggi di area terdampak abu vulkanik mulai mempertimbangkan penerapan perkuliahan jarak jauh.
Tidak hanya perkuliahan, Fauzan juga menyarankan agar kampus mengurangi berbagai aktivitas di luar ruangan, termasuk layanan kantor dan kegiatan akademik lainnya. Ia mengusulkan metode daring, hybrid, atau cara lain yang dianggap paling efektif untuk meminimalisir risiko penyakit akibat paparan debu erupsi. "Oleh karena itu, aktivitas layanan kantor maupun pembelajaran, dan aktivitas akademik yang lain dapat dilakukan secara daring atau hybrid, atau cara yang dianggap lebih efektif untuk mengurangi terjadinya penyakit akibat debu erupsi itu," jelas Fauzan dalam jumpa pers daring.
Lebih lanjut, Fauzan juga mendorong pimpinan perguruan tinggi untuk mendirikan posko siaga di lingkungan masing-masing dan menjalin koordinasi erat dengan pemerintah daerah setempat. Ia juga menyerukan mobilisasi bantuan yang diperlukan bagi masyarakat dan sivitas akademika, terutama yang berkaitan dengan dampak erupsi.


