Chapnews – Ekonomi – Program Kredit Program Perumahan (KPP) yang digulirkan oleh PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BTN) menunjukkan kinerja impresif dengan total penyaluran mencapai Rp7,4 triliun secara kumulatif. Angka fantastis ini tidak hanya mempercepat penyediaan hunian, tetapi juga menjadi motor penggerak bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di sektor perumahan untuk naik kelas, demikian disampaikan Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait.
Dari total pembiayaan tersebut, skema KPP Supply mendominasi dengan Rp5,4 triliun, sementara KPP Demand berkontribusi Rp2 triliun. Direktur Corporate Banking BTN, Helmy Afrisa, menjelaskan bahwa KPP dirancang strategis untuk menjangkau dua sisi krusial: mendukung pelaku usaha dalam menyediakan rumah dan memfasilitasi masyarakat produktif dengan pembiayaan yang menunjang kegiatan usaha mereka.

"Melalui KPP Supply dan KPP Demand, BTN berupaya memperluas akses pembiayaan di seluruh ekosistem perumahan. Kami ingin program ini tidak hanya mendorong penyediaan hunian, tetapi juga meningkatkan produktivitas pelaku usaha dan pada akhirnya menggerakkan ekonomi rakyat," ujar Helmy dalam kegiatan Sosialisasi Kredit Program Perumahan di Menara BTN, Jakarta, Jumat lalu.
Pada sisi KPP Supply, pembiayaan ini ditujukan bagi para pengembang (developer), kontraktor, hingga pedagang bahan bangunan. Dengan plafon kredit yang mencapai Rp5 miliar, KPP Supply menjadi tulang punggung bagi para pelaku usaha untuk memastikan ketersediaan pasokan perumahan yang memadai di berbagai daerah.
Sementara itu, KPP Demand hadir sebagai solusi bagi UMKM perorangan. Skema ini menawarkan pembiayaan hingga Rp500 juta yang dapat digunakan untuk membeli, membangun, atau merenovasi rumah. Tujuan utamanya adalah agar hunian tersebut dapat mendukung atau bahkan menjadi bagian integral dari kegiatan usaha UMKM, memberikan landasan yang kokoh bagi pengembangan bisnis mereka.
Potensi pertumbuhan KPP dipandang masih sangat luas dan menjanjikan. Sebagai gambaran nyata, di wilayah Jakarta dan sekitarnya saja, BTN telah mencatat 353 peminatan dengan total plafon mencapai Rp424,944 miliar. Rinciannya, 57 peminatan berasal dari KPP Supply senilai Rp288,970 miliar, dan 296 peminatan dari KPP Demand senilai Rp135,974 miliar. Data ini secara jelas mengindikasikan antusiasme tinggi dan kebutuhan nyata akan program pembiayaan perumahan yang terintegrasi dengan pengembangan UMKM, menegaskan peran vital BTN dalam ekosistem ekonomi nasional.


