Ads - After Header

Mahasiswi IPB Dikeroyok! Riset Skripsi Berujung Kekerasan

Ahmad Dewatara

Mahasiswi IPB Dikeroyok! Riset Skripsi Berujung Kekerasan

Chapnews – Nasional – Seorang mahasiswi Program Studi Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (KPM), Fakultas Ekologi Manusia (Fema) IPB University, Feny Siregar, diduga menjadi korban penganiayaan oleh security PT Toba Pulp Lestari (TPL) saat melakukan riset skripsi di Danau Toba, Sumatera Utara, Senin (22/9). Insiden ini dikonfirmasi oleh pihak IPB University melalui keterangan tertulis.

Rektor IPB University, Arif Satria, menyatakan keprihatinan mendalam atas kejadian tersebut dan menegaskan komitmen IPB untuk menindaklanjuti kasus ini secara serius. Dekan Fema IPB University, Sofyan Sjaf, bahkan akan segera berangkat ke lokasi untuk berkoordinasi dengan Polda Sumatera Utara dan memastikan kondisi Feny. "Kami berkomitmen memberikan perlindungan kepada mahasiswi kami," tegas Arif.

Mahasiswi IPB Dikeroyok! Riset Skripsi Berujung Kekerasan
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Feny, mahasiswi semester IX, menjelaskan dirinya tengah meneliti konflik agraria dalam perspektif gender di Desa Sihaporas saat insiden terjadi. Ia mendokumentasikan aksi penyerbuan ratusan pekerja PT TPL dan menjadi korban kekerasan saat berusaha menyelamatkan diri. "Saya dikejar dan dipukul. Mereka mengira saya provokator, padahal saya sudah bilang mahasiswa," ungkap Feny, yang kini dirawat di Rumah Sakit Harapan, Pematangsiantar. Luka di bagian kepala akibat pukulan benda tumpul membuat kondisinya memprihatinkan. Jaket almamater IPB-nya bahkan tertinggal di lokasi kejadian.

Bukan hanya Feny, sekitar 33 orang lainnya, termasuk anak-anak dan perempuan, menjadi korban luka-luka dalam bentrokan antara pekerja PT TPL dan warga. Salah satu korban serius lainnya adalah Putri Ambarita, kakak dari seorang penyandang disabilitas. Menurut keterangan saksi, para pekerja PT TPL menggunakan pentungan kayu, tameng rotan, dan helm untuk menyerang warga. Kepala Desa Sihaporas periode 2002-2004, Baren Ambarita, mengatakan upaya dialog gagal dilakukan karena massa pekerja PT TPL bersikap agresif.

Tim Advokasi Masyarakat Adat Nusantara, Boy Raja Marpaung, menjelaskan bentrokan bermula saat puluhan petani sedang berladang. Ratusan pekerja PT TPL tiba-tiba datang dengan membawa senjata tajam dan merusak tanaman warga. Sementara itu, Corporate Communication Head PT TPL, Salomo Sitohang, menyatakan peristiwa bermula dari aksi pelemparan batu dan pemblokiran jalan oleh sekelompok orang yang menghadang rombongan pekerja PT TPL. Pihak TPL juga melaporkan adanya kerusakan dan korban luka di pihak mereka. Pernyataan yang saling bertolak belakang ini membuat kasus ini semakin kompleks dan membutuhkan penyelidikan mendalam oleh pihak berwajib. chapnews.id akan terus memantau perkembangan kasus ini.

Also Read

Bagikan:

Ahmad Dewatara

Ahmad Dewatara

kontributor di ChapNews yang berfokus pada liputan dan analisis Olahraga. Ia secara rutin menyajikan berita terkini, ulasan pertandingan, dan spekulasi transfer di dunia sepak bola global maupun nasional, memberikan pandangan yang tajam bagi para penggemar olahraga.

Tags

Tinggalkan komentar

Ads - Before Footer