Chapnews – Nasional – Seorang pemudik bernama Rijal harus merasakan pahitnya mudik Lebaran tahun ini. Niatnya untuk merayakan Idulfitri di kampung halaman terpaksa tertunda setelah tiket penyeberangan yang ia beli dari seorang calo di pinggir jalan mendadak gagal terverifikasi saat diperiksa di gerbang masuk Pelabuhan Ciwandan, Banten, Rabu (18/3) dini hari. Di tengah hiruk pikuk antrean sepeda motor yang tak henti bergerak, langkah Rijal justru terhenti, menyisakan raut wajah kebingungan dan kekecewaan.
"Tidak bisa di-scan, gagal terus," keluh Rijal saat ditemui di lokasi, menggambarkan frustrasinya saat sistem pemindai menolak tiketnya berulang kali.

Rijal bersama dua rekannya memulai perjalanan mudik dari Tangerang menuju Lampung dengan sepeda motor. Mereka berangkat sekitar pukul 21.00 WIB dan tiba di kawasan pelabuhan pada pukul 00.30 WIB, Selasa (17/3). Sebelum memasuki area pelabuhan, mereka memutuskan untuk membeli tiket dari seorang calo yang menjajakan jasanya di pinggir jalan. Dengan harga Rp90 ribu per lembar, tiket tersebut dua kali lipat lebih mahal dibandingkan tarif resmi yang hanya Rp45 ribu jika dibeli melalui aplikasi daring.
Ironisnya, dari tiga tiket yang dibeli, hanya tiket milik Rijal yang bermasalah. Masalah tersebut baru terungkap saat pemeriksaan ketat di pintu masuk. Pengalaman pahit ini adalah yang pertama baginya setelah bertahun-tahun rutin mudik dengan cara serupa. "Sudah sering pulang, baru kali ini gagal," ujarnya dengan nada pasrah.
Kebingungan serupa juga dirasakan oleh rekan-rekan Rijal. Dua tiket lain yang mereka beli dari calo yang sama justru dapat digunakan tanpa kendala. Solidaritas rekan-rekannya pun diuji. "Tidak mungkin ditinggal, kasihan. Baru kali ini kejadian seperti ini," kata salah satu rekannya, menunjukkan dilema yang mereka hadapi.
Rijal dan rombongannya ternyata bukan satu-satunya pemudik yang memilih jalur tidak resmi ini. Pemudik lain, Hidayat, juga mengaku membeli tiket dari calo dengan harga Rp75 ribu. Meski menyadari harganya lebih mahal, Hidayat berdalih ingin membantu perekonomian masyarakat sekitar. Beruntung, tiket yang dibelinya masih bisa digunakan. "Sekalian bantu UMKM," ujarnya, meskipun praktik percaloan seringkali tidak terkait langsung dengan UMKM resmi.
Menanggapi fenomena ini, Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry, Heru Widodo, menegaskan komitmen pihaknya untuk menindak tegas praktik percaloan tiket di Pelabuhan Merak dan Ciwandan. Ia mendesak masyarakat untuk membeli tiket secara resmi melalui layanan daring dan mandiri, tanpa melalui perantara.
"Kami mengimbau masyarakat membeli tiket secara online dan mandiri, tidak melalui perantara," kata Heru saat berada di Pelabuhan Merak, Senin (16/3). Heru menambahkan, sistem pembelian tiket online telah beroperasi secara mapan sejak 2020. Menurutnya, masyarakat seharusnya sudah terbiasa dan memahami mekanisme tersebut. "Sistem tiket online ini sudah berjalan enam tahun. Masyarakat seharusnya sudah mengetahui bahwa tiket dijual secara online," pungkasnya, mengingatkan pentingnya kewaspadaan agar tidak menjadi korban praktik ilegal seperti yang dialami Rijal.


