Chapnews – Ekonomi – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengeluarkan instruksi tegas kepada seluruh jajaran kementerian, termasuk Tentara Nasional Indonesia (TNI), untuk segera menuntaskan kontrak Program Cetak Sawah Rakyat (CSR) seluas 101.503 hektare. Target ambisius ini harus tercapai dalam kurun waktu satu bulan, sebagai upaya krusial pemerintah dalam mengukuhkan swasembada dan ketahanan pangan nasional.
Menyampaikan urgensi situasi, Mentan Amran menegaskan, "Waktunya tinggal satu bulan. Target kontrak cetak sawah 101 ribu hektare harus diselesaikan. Saya minta seluruh jajaran, termasuk TNI, bergerak cepat dan bekerja total. Ini penentu." Pernyataan ini disampaikan dalam keterangan resmi yang diterima chapnews.id pada Kamis (26/2/2026), menggarisbawahi pentingnya kolaborasi lintas sektor.

Program percepatan kontrak cetak sawah ini difokuskan pada sejumlah provinsi yang memiliki potensi besar dan menjadi prioritas. Daerah-daerah tersebut meliputi Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Papua Selatan (Merauke), Gorontalo, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Papua Barat Daya, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Jambi, Bengkulu, Kalimantan Barat, Riau, dan Kalimantan Utara.
Amran secara lugas menjelaskan bahwa peran serta TNI dalam program cetak sawah bukan sekadar dukungan, melainkan bagian integral dari kolaborasi strategis lintas sektor. Keterlibatan ini krusial dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan global yang semakin kompleks. Ia menyoroti kondisi iklim dunia yang kian tidak menentu, termasuk ancaman El Nino, sebagai faktor pendorong utama percepatan program ini.
Dalam kesempatan tersebut, Amran kembali menekankan, "Kondisi iklim ekstrem bukan lagi pilihan, ini kewajiban kita untuk bersiap. Kalau pangan bermasalah, negara bermasalah. Karena itu TNI, pemerintah daerah, dan seluruh jajaran harus turun tangan. Ini perintah strategis untuk menjaga kedaulatan pangan." Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa isu pangan adalah isu fundamental negara.
Menteri Pertanian juga mengingatkan akan pelajaran berharga dari krisis pangan global yang terjadi selama El Nino 2023-2024. Kala itu, banyak negara produsen membatasi ekspor beras, memicu kekhawatiran. Bagi Indonesia, dengan populasi yang sangat besar, ketergantungan pada impor pangan bukanlah opsi. Oleh karena itu, perluasan areal tanam melalui pembukaan sawah baru menjadi strategi vital untuk mendongkrak produksi beras nasional dan memastikan kemandirian pangan.



