Chapnews – Ekonomi – PT Pertamina (Persero) telah mengambil langkah strategis dengan meresmikan pembentukan Subholding Downstream (SHD). Entitas baru ini merupakan gabungan dari tiga anak usaha vital di sektor hilir migas: PT Pertamina Patra Niaga (PPN), PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), dan PT Pertamina International Shipping (PIS). Pembentukan SHD ini diharapkan mampu mengoptimalkan seluruh rantai operasional hilir migas, dari pengolahan hingga distribusi, demi menjamin ketersediaan pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Elpiji, serta memperkuat ketahanan energi nasional.
Langkah integrasi ini mendapat sorotan positif dari berbagai pihak, termasuk Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro. Menurut Komaidi, penyatuan PPN, PIS, dan KPI di bawah satu atap Subholding Downstream secara inheren akan menyederhanakan proses operasional. "Diharapkan memang terjadi optimalisasi operasional, karena integrasi akan membuat mereka saling mendukung. Ibaratnya, jika ada pekerjaan, bisa dikerjakan bersama-sama, sehingga prosesnya menjadi jauh lebih sederhana," ujar Komaidi dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (7/2/2026), seperti dikutip dari chapnews.id.

Komaidi menambahkan, penyederhanaan proses ini berimplikasi langsung pada kecepatan pemenuhan kebutuhan BBM dan Elpiji, baik dalam hal pengadaan maupun distribusinya. Hal ini krusial untuk mendukung komitmen Pertamina dalam memastikan pasokan energi sampai ke tangan masyarakat dengan lebih cepat dan efisien.
Sebagai contoh, Komaidi menjelaskan, interaksi antara PPN dengan KPI terkait kualitas BBM, atau dengan PIS mengenai pengangkutan minyak, kini dapat berlangsung lebih cepat. "Misalkan PPN membutuhkan minyak dari Arab dan harus segera sampai dalam hitungan waktu tertentu. Maka, PPN tinggal memerintahkan atau berkomunikasi saja dengan kapal (PIS), karena satu atap. Jadi lebih sederhana, tanpa harus melalui prosedur antar lembaga seperti surat atau bahkan kontrak," paparnya.
Efisiensi serupa juga akan terasa saat terjadi indikasi kelangkaan BBM di suatu daerah. Subholding Downstream dapat dengan sigap memetakan sumber pasokan dari kilang mana yang paling optimal, serta mengkoordinasikan pengangkutan via kapal dengan lebih cepat. "Jadi tidak perlu Patra mengontak KPI lebih dulu, lalu KPI beli dulu minyaknya. Dengan terintegrasi, mungkin teknisnya sama, tapi administrasinya jauh lebih sederhana," jelas Komaidi.
Ia menekankan bahwa meskipun aspek teknis mungkin tidak banyak berubah, namun birokrasi dan administrasi akan terpangkas signifikan. "Jadi lebih cepat. Kalau dulu, ibaratnya, oke, isi form dulu dan lain sebagainya. Nah, sekarang karena satu atap, tidak perlu isi form," tambahnya, menggambarkan betapa ringkasnya proses yang baru.
Komaidi optimistis bahwa integrasi PPN, PIS, dan KPI akan menjadikan Pertamina semakin andal, lincah, dan optimal dalam menjalankan operasionalnya. Keyakinan ini juga mencakup kesiapan Pertamina dalam menghadapi Satuan Tugas Ramadhan dan Idulfitri (RAFI) 2026. "Dengan integrasi, seharusnya lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Apalagi tahun-tahun sebelumnya Satgas RAFI Pertamina bisa dikatakan selalu berhasil dan konsumen selalu memberikan apresiasi terhadap layanannya, terhadap produknya, terhadap aspek-aspek yang lainnya," pungkasnya.



