Chapnews – Ekonomi – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada akhir perdagangan Senin (2/2/2026). Mata uang domestik ini terkoreksi 12 poin atau sekitar 0,07 persen, menembus level Rp16.798 per dolar AS. Pelemahan ini, menurut analisis para ahli, banyak dipengaruhi oleh dinamika sentimen global yang sedang bergejolak.
Pengamat pasar uang terkemuka, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa salah satu pendorong utama pelemahan rupiah ini berasal dari kancah politik Amerika Serikat. "Sentimen eksternal yang paling menonjol adalah keputusan Presiden AS Donald Trump menominasikan mantan gubernur Federal Reserve (Fed), Kevin Warsh, sebagai calon pengganti ketua petahana Jerome Powell," jelas Ibrahim dalam risetnya yang diterima chapnews.id.

Warsh dikenal memiliki pandangan yang sejalan dengan keinginan Trump untuk menurunkan suku bunga secara agresif. Namun, di sisi lain, ia juga kerap melontarkan kritik terhadap program pembelian aset yang dilakukan The Fed. "Ini mengindikasikan bahwa kebijakan moneter jangka panjang di bawah kepemimpinan Warsh mungkin tidak akan selunak yang diperkirakan pasar pada awalnya," tambah Ibrahim.
Meski demikian, Warsh kemungkinan akan lebih menekankan pada kelemahan pasar tenaga kerja sebagai risiko yang lebih besar terhadap mandat The Fed untuk mencapai lapangan kerja maksimal dan stabilitas harga. Hal ini bisa berarti dukungan terhadap penurunan suku bunga lebih lanjut jika ia dikonfirmasi dalam beberapa bulan mendatang. Masa jabatan Jerome Powell sendiri akan berakhir pada Mei, dan pekan lalu ia sempat mengingatkan penggantinya agar tidak terjebak dalam politik pemilihan.
Selain itu, dinamika geopolitik juga turut menyumbang sentimen positif yang paradoks. Presiden Trump pada hari Sabtu menyatakan bahwa Iran "serius berbicara," beberapa jam setelah pejabat keamanan tertinggi Teheran, Ali Larijani, mengonfirmasi adanya persiapan negosiasi. Komentar Trump, ditambah laporan bahwa angkatan laut Garda Revolusi Iran tidak berencana melakukan latihan tembak langsung di Selat Hormuz, dianggap sebagai sinyal de-eskalasi yang dapat mempengaruhi pasar global.
Dari kawasan Asia, pernyataan Perdana Menteri Jepang Takaichi juga menjadi sorotan. Dalam pidato kampanyenya baru-baru ini, Takaichi sempat menyinggung manfaat mata uang yang lebih lemah, yang sedikit bertolak belakang dengan sinyal dari pemerintahannya yang justru memperingatkan terhadap pelemahan mata uang yang berkepanjangan.
Takaichi berpendapat bahwa yen yang melemah akan menguntungkan para eksportir, meskipun ia kemudian terlihat melunakkan pendiriannya. Sejumlah pejabat Jepang, termasuk Takaichi sendiri, telah berulang kali memperingatkan pasar terhadap pergerakan yen yang terlalu ekstrem, memicu spekulasi mengenai kemungkinan intervensi pemerintah untuk menstabilkan mata uang. Rentetan sentimen global inilah yang secara kolektif memberikan tekanan pada pergerakan rupiah di pasar keuangan.



