Ads - After Header

Sampah Dapur Jadi Emas! Mataram Sulap Limbah Organik Jadi Rupiah

Ahmad Dewatara

Chapnews – Ekonomi – Tumpukan sisa makanan dari rumah tangga dan pelaku usaha kecil, yang selama ini kerap dianggap sebagai masalah lingkungan, kini menemukan jalan hidup baru di Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram. Limbah organik tersebut tidak lagi berakhir sia-sia di tempat pembuangan, melainkan berhasil diolah menjadi aset berharga melalui budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF). Inisiatif ini tidak hanya efektif menekan volume sampah, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat setempat.

Transformasi sampah menjadi sumber daya ini berpusat di fasilitas Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Sekarbela. Fasilitas ini melayani kebutuhan pengelolaan sampah di tiga kelurahan, dengan pasokan bahan baku utama berasal dari sampah organik rumah tangga dan UMKM yang beroperasi di kawasan Pantai Bagek Kembar.

Sampah Dapur Jadi Emas! Mataram Sulap Limbah Organik Jadi Rupiah
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Prinsip pengelolaannya cukup lugas. Sampah yang masuk tidak langsung dibuang, melainkan dipilah secara cermat berdasarkan jenisnya. Sampah organik kemudian dialihkan ke proses pengolahan khusus, salah satunya untuk mendukung aktivitas budidaya maggot.

Maggot BSF dikenal akan kemampuannya yang luar biasa dalam mendegradasi materi organik dengan cepat. Kehadiran maggot ini tidak hanya membantu mengurangi volume sampah yang harus dibuang ke TPA, tetapi juga menghasilkan biomassa yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan bernutrisi tinggi. Potensi ekonomi dari hasil budidaya maggot ini sangat menjanjikan bagi kelompok masyarakat yang mengelolanya.

Muhammad Ridwan, Ketua Kelompok Bale Maggot, mengungkapkan bahwa pemanfaatan sampah organik ini telah mengubah paradigma masyarakat dalam melihat limbah. "Melalui pelatihan ini, kami belajar bagaimana sampah organik yang sebelumnya hanya dibuang dapat dimanfaatkan untuk budidaya maggot. Harapannya, kegiatan ini bisa terus berkembang sehingga selain membantu mengurangi sampah, juga dapat memberikan manfaat ekonomi bagi kelompok dan masyarakat," ujar Ridwan, seperti dikutip dari keterangan resmi PLN EPI, Sabtu (11/9/2026).

Menurut Ridwan, pengolahan sampah menjadi langkah krusial agar masyarakat tidak lagi terpaku pada metode konvensional "kumpul-angkut-buang". Sampah yang masih memiliki nilai guna dapat dipisahkan sejak awal, sehingga lebih banyak material yang bisa didaur ulang atau dimanfaatkan kembali.

Perspektif serupa turut disampaikan oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Mataram, Lalu Martawang, yang mewakili Wali Kota Mataram. Ia menekankan bahwa keberadaan TPS3R harus diiringi dengan perubahan mendasar dalam cara pandang masyarakat terhadap sampah.

"Pembangunan TPS3R ini lebih dari sekadar penyediaan infrastruktur pengelolaan sampah. Lebih dari itu, kami berharap fasilitas ini menjadi bagian dari transformasi perilaku dan budaya masyarakat dalam memperlakukan sampah," kata Martawang.

Ia menilai, sampah semestinya tidak selalu dipandang sebagai barang yang harus segera disingkirkan. Sebagian besar sampah, terutama yang masih memiliki nilai guna, dapat dikelola secara cerdas menjadi sumber daya yang produktif. "Bantuan yang paling esensial adalah yang mampu menjawab kebutuhan riil masyarakat dan memberikan manfaat yang dapat dirasakan dalam jangka panjang," pungkasnya.

Also Read

Bagikan:

Ahmad Dewatara

kontributor di ChapNews yang berfokus pada liputan dan analisis Olahraga. Ia secara rutin menyajikan berita terkini, ulasan pertandingan, dan spekulasi transfer di dunia sepak bola global maupun nasional, memberikan pandangan yang tajam bagi para penggemar olahraga.

Tags

Tinggalkan komentar

Ads - Before Footer