Ads - After Header

Strategi BI Borong SBN Jaga Rupiah

Ahmad Dewatara

Chapnews.id – Bank Indonesia (BI) mengambil langkah strategis yang cukup masif dalam upaya memperkuat stabilitas ekonomi nasional. Sepanjang periode Januari hingga Oktober 2026, bank sentral dilaporkan telah menyerap Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder dengan nilai mencapai Rp135 triliun. Langkah intervensi besar-besaran ini dilakukan bukan tanpa alasan, melainkan sebagai bagian dari strategi menjaga ketahanan nilai tukar Rupiah di tengah dinamika pasar global yang tidak menentu.

Melalui aksi beli SBN tersebut, Bank Indonesia berupaya menyuntikkan likuiditas ke dalam sistem keuangan domestik. Hal ini menjadi sangat krusial untuk membentengi mata uang Garuda dari ancaman arus modal keluar atau capital outflow yang dapat memicu depresiasi nilai tukar secara tajam. Dengan adanya pembelian di pasar sekunder, BI berperan sebagai penyeimbang yang memastikan pasar tetap berjalan stabil meskipun terjadi guncangan dari faktor eksternal.

Strategi BI Borong SBN Jaga Rupiah
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea, menjelaskan bahwa penggunaan instrumen surat berharga pemerintah merupakan pilar fleksibel bagi bank sentral. Instrumen ini memungkinkan BI untuk meredam gejolak pasar finansial domestik secara lebih efektif dan terukur. Berdasarkan data yang dihimpun, intensitas intervensi ini terlihat konsisten sepanjang tahun berjalan.

"Jika kita melihat angka akumulasi dari awal tahun hingga Oktober, total pembelian mencapai sekitar Rp135 triliun. Khusus untuk pergerakan di bulan Oktober saja, nilainya menyentuh angka sekitar Rp13 triliun," ungkap Erwin dalam sebuah diskusi media yang digelar di kantor pusat Bank Indonesia, Jakarta, pada Jumat (23/10/2026).

Lebih lanjut, Erwin memaparkan bahwa setiap transaksi yang dilakukan oleh bank sentral di pasar SBN selalu didasarkan pada dua motif strategis yang sangat mendalam. Alasan pertama berkaitan dengan upaya mitigasi risiko terhadap efek rambatan (spillover effect) yang sering terjadi saat investor asing melakukan aksi jual massal terhadap portofolio obligasi negara.

Fenomena pelepasan aset oleh pemodal asing sering kali menjadi pemicu utama jatuhnya harga obligasi di pasar. Jika harga obligasi merosot tajam, hal ini secara otomatis akan memberikan tekanan hebat pada nilai tukar Rupiah. Dalam kondisi inilah, Bank Indonesia hadir sebagai pembeli siaga (buyer of last resort) untuk menstabilkan harga surat utang tersebut sekaligus menahan volatilitas kurs agar tidak bergerak liar.

"Saat terjadi arus modal keluar yang sangat kencang dan diikuti dengan penjualan SBN secara masif oleh investor asing, dampak lanjutannya akan langsung menyerang nilai tukar. Oleh karena itu, kami memiliki kemungkinan untuk melakukan pembelian SBN sebagai langkah defensif guna melindungi nilai tukar Rupiah," pungkas Erwin.

Langkah proaktif BI ini diharapkan dapat memberikan rasa aman bagi pelaku pasar dan menjaga kepercayaan investor terhadap stabilitas makroekonomi Indonesia di masa mendatang. Melalui manajemen likuiditas yang ketat, BI berkomitmen untuk terus mengawal agar ekonomi nasional tetap tangguh menghadapi tantangan global. Informasi lebih lanjut mengenai perkembangan ekonomi dapat Anda pantau terus di chapnews.id.

Also Read

Bagikan:

Ahmad Dewatara

kontributor di ChapNews yang berfokus pada liputan dan analisis Olahraga. Ia secara rutin menyajikan berita terkini, ulasan pertandingan, dan spekulasi transfer di dunia sepak bola global maupun nasional, memberikan pandangan yang tajam bagi para penggemar olahraga.

Tags

Tinggalkan komentar

Ads - Before Footer