Chapnews – Nasional – Kepolisian Republik Indonesia dengan tegas membantah spekulasi yang menyebutkan bahwa wajah terduga pelaku penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus, yang baru-baru ini dirilis ke publik, merupakan hasil rekayasa atau Artificial Intelligence (AI). Direktur Reserse Kriminal Umum, Kombes Iman Imanuddin, memastikan bahwa identitas visual tersebut diperoleh melalui analisis mendalam rekaman kamera pengawas (CCTV).
Dalam konferensi pers yang digelar di Polda Metro Jaya, Kombes Iman Imanuddin menekankan, "Ini adalah hasil dari pengambilan gambar terhadap CCTV yang sudah kami peroleh." Ia menambahkan, "Kami tekankan kepada rekan-rekan sekalian, ini sama sekali tidak dilakukan perubahan ataupun pengolahan, sehingga kami dapat pertanggungjawabkan bahwa ini bukan hasil artificial intelligence." Penegasan ini bertujuan untuk menghilangkan keraguan publik terkait keaslian bukti yang disajikan, sekaligus menegaskan bahwa gambar tersebut murni diambil dari tangkapan kamera pengawas di sepanjang jalur yang dilalui para pelaku.

Iman lebih lanjut menjelaskan bahwa dua individu telah diidentifikasi sebagai terduga pelaku, yakni BHC dan MAK. Keduanya, menurut Iman, telah membuntuti korban sejak dari kantor pusat Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) di Jalan Diponegoro, Menteng, hingga saat mengisi bahan bakar, sebelum akhirnya melancarkan aksinya di daerah Cempaka Putih Barat, Jakarta Pusat. Salah satu dari mereka berperan sebagai pengemudi, sementara yang lain bertindak sebagai eksekutor penyiraman cairan berbahaya tersebut kepada korban.
Namun, investigasi kasus ini menjadi semakin kompleks dengan adanya temuan berbeda dari Pusat Polisi Militer (Puspom) TNI. Komandan Puspom TNI, Mayjen Yusri Nuryanto, mengungkapkan adanya empat terduga pelaku yang merupakan anggota TNI. Inisial mereka adalah NDP (pangkat kapten), SL dan BHW (pangkat lettu), serta ES (pangkat serda). Keempatnya dijerat dengan Pasal 467 ayat 1 dan 2 KUHP baru, yang mengatur tentang penganiayaan berencana. Perbedaan jumlah dan identitas pelaku antara temuan Polri dan Puspom TNI ini mengindikasikan adanya dinamika penyelidikan yang masih berlangsung dan perlu disinkronkan untuk mengungkap kebenaran secara utuh.


