Chapnews – Nasional – Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo Muhammad Syafi’i membawa kabar signifikan bagi ekosistem pendidikan Islam di Indonesia. Peraturan Presiden (Perpres) yang mengatur pembentukan Direktorat Jenderal (Ditjen) Pesantren kini telah resmi ditandatangani, menandai langkah maju yang krusial bagi pengembangan pesantren di tanah air.
"Perpres tentang Direktorat Jenderal Pesantren sudah ditandatangani," ungkap Syafi’i, sebagaimana dikutip dari laman resmi Kementerian Agama pada Jumat (3/4). Ia menambahkan bahwa dokumen penting tersebut saat ini tengah melalui tahap telaah di Sekretariat Umum sebelum akhirnya dapat diundangkan ke dalam Lembaran Negara.

Menurut Wamenag, kehadiran Ditjen Pesantren bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah keniscayaan yang tak terhindarkan. Pertimbangan utama di balik pembentukan ini adalah populasi pesantren yang masif, jumlah santri yang terus bertambah, serta peran strategis para kiai yang tak tergantikan dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan dan keagamaan di Indonesia.
Dalam rancangan organisasi yang sedang dimatangkan, Ditjen Pesantren diproyeksikan akan memiliki lima direktorat strategis. Struktur ini dirancang secara komprehensif untuk memastikan pelayanan dan pengembangan pesantren dapat berjalan optimal dan menyeluruh. Kelima direktorat tersebut meliputi:
- Direktorat Pendidikan Muadalah, Diniyah Formal, dan Kajian Kitab Kuning.
- Direktorat Pendidikan Ma’had Aly.
- Direktorat Pendidikan Diniyah Takmiliyah dan Pendidikan Al-Quran.
- Direktorat Pemberdayaan Pesantren.
- Direktorat Pengembangan Dakwah Pesantren.
Syafi’i menekankan bahwa kelengkapan struktur ini adalah kunci keberhasilan. "Jika salah satu unsur ini tidak ada, maka gerak organisasi akan pincang dalam melayani kebutuhan pesantren yang sangat kompleks," jelasnya, menggarisbawahi bahwa setiap direktorat memiliki peran krusial dalam ekosistem pesantren.
Selain fokus pada struktur, Wamenag juga memberikan perhatian khusus pada aspek sumber daya manusia (SDM) yang akan mengisi posisi-posisi di unit baru ini. Ia mendesak agar proses rekrutmen personel segera dipersiapkan agar operasional ditjen dapat langsung berjalan cepat tanpa kendala teknis.
Secara spesifik, Syafi’i meminta agar posisi-posisi kunci diisi oleh figur-figur yang memiliki pengalaman empiris dan pemahaman mendalam tentang dunia pesantren. "Untuk urusan kurikulum dan pengasuhan asrama, harus diisi oleh orang-orang yang benar-benar memahami ‘ruh’ pesantren," tegasnya. Sementara itu, untuk bidang seperti pemberdayaan, ia menyarankan pelibatan tenaga ahli yang kompeten di bidangnya guna memaksimalkan potensi pesantren dalam berbagai sektor.


