72 Bulan Surplus Hancur! Migas Biang Kerok Defisit RI
JAKARTA – Jumat, 03 Juli 2026 – Chapnews – Ekonomi – Bank Indonesia (BI) secara resmi mengumumkan bahwa neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 mengalami defisit, mengakhiri rentetan panjang surplus yang telah bertahan selama 72 bulan berturut-turut. Penyebab utama kondisi ini, menurut BI, adalah lonjakan defisit di sektor minyak dan gas (migas), meskipun kinerja ekspor nonmigas masih menunjukkan ketahanan yang kuat.

Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa neraca perdagangan nasional mencatat defisit signifikan sebesar 1,61 miliar dolar AS pada Mei 2026. Angka ini menjadi sorotan karena memutus rekor impresif surplus perdagangan yang telah dipertahankan selama enam tahun berturut-turut.
Denny menambahkan, penurunan kinerja perdagangan pada bulan tersebut secara spesifik dipicu oleh melebarnya defisit di sektor migas, sementara transaksi nonmigas tetap menunjukkan performa positif dengan mencatatkan surplus. "Berdasarkan data BPS, neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 mencatat defisit sebesar 1,61 miliar dolar AS. Kondisi ini dipengaruhi meningkatnya defisit neraca perdagangan migas di tengah neraca perdagangan nonmigas yang tetap mencatat surplus," ujar Denny dalam keterangan resminya, yang dikutip chapnews.id pada Jumat (3/7/2026).
BI mengidentifikasi bahwa defisit perdagangan migas melonjak drastis hingga menyentuh angka 3,76 miliar dolar AS pada Mei 2026. Ketimpangan ini terjadi akibat penurunan nilai ekspor migas yang jauh lebih signifikan dibandingkan dengan penurunan pada sektor impor migas. Situasi ini menyoroti kerentanan Indonesia terhadap fluktuasi harga komoditas global dan kebutuhan energi domestik.
Namun, di tengah tekanan tersebut, sektor perdagangan nonmigas masih menunjukkan ketahanan yang patut diapresiasi. Tercatat, neraca perdagangan nonmigas berhasil mencatatkan surplus sebesar 2,15 miliar dolar AS pada periode yang sama. Kinerja positif ini didorong oleh realisasi ekspor nonmigas yang mencapai 22,44 miliar dolar AS, menjadikannya penopang utama dalam menahan defisit agar tidak semakin dalam.
Jurnalis: Rohman Wibowo


