Minyak Jelantah Jadi Bahan Bakar Pesawat? Kemenhub Targetkan 2060!
Chapnews – Ekonomi – Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Perhubungan (Kemenhub), telah menetapkan target ambisius untuk masa depan penerbangan nasional. Pada tahun 2060, Kemenhub menargetkan 50 persen bahan bakar pesawat akan menggunakan Sustainable Aviation Fuel (SAF), sebuah inovasi yang sebagian besar berasal dari minyak jelantah. Langkah strategis ini merupakan bagian dari upaya besar untuk menciptakan industri penerbangan yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan, seiring dengan proyeksi peningkatan permintaan akan transportasi udara di masa mendatang.

Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) Kemenhub, Sokhib Al Rokhman, menjelaskan bahwa penggunaan SAF saat ini masih dalam tahap uji coba dengan persentase yang relatif kecil, yakni sekitar 1 persen. Namun, persentase ini akan ditingkatkan secara bertahap setelah melalui evaluasi menyeluruh. "Kita akan bertahap, 1 persen kita evaluasi bagaimana teknologi itu bisa digunakan oleh mesin pesawat. Kemudian nanti tentu secara bertahap akan meningkat pada tahun 2060 bisa mencapai 30 sampai 50 persen blended SAF-nya," ujar Sokhib saat ditemui usai Rapat Umum Anggota (RUA) INACA Tahun 2026 di Jakarta.
Meski demikian, Sokhib tidak menampik adanya tantangan signifikan dalam implementasi SAF, terutama terkait ketersediaan bahan baku. Berbeda dengan avtur konvensional yang berasal dari aktivitas pengeboran di sumur minyak, SAF diolah dari limbah minyak masyarakat, seperti minyak jelantah. Oleh karena itu, pengumpulan limbah minyak dari rumah tangga maupun sektor industri menjadi hambatan utama dalam memastikan pasokan bahan baku SAF yang berkelanjutan dan memadai.
Uji coba SAF dengan kadar 1 persen telah berhasil dilakukan pada maskapai penerbangan domestik. Rencananya, implementasi SAF secara komersial akan dimulai pada tahun 2027, khususnya untuk penerbangan internasional dari dua bandara utama: Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Tangerang, Banten, dan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai di Denpasar, Bali. "Jadi pencanangannya di tahun 2027, bulannya tergantung Pertamina, tentu bagaimana suplainya. Tetapi sekarang hanya untuk penerbangan internasional untuk Bandara Soekarno-Hatta dan I Gusti Ngurah Rai di Denpasar," tambah Sokhib, menekankan peran Pertamina dalam penyediaan pasokan SAF. Inisiatif ini menandai langkah konkret Indonesia menuju penerbangan yang lebih hijau dan masa depan energi yang lebih bersih.


