Chapnews – Nasional – KMP Tunu Pratama Jaya, kapal penyeberangan rute Ketapang-Gilimanuk, menenggelamkan harapan puluhan penumpang saat terbalik di Selat Bali, Rabu (2/7) tengah malam. Kesaksian dramatis ABK dan penumpang selamat mengungkap detik-detik mencekam sebelum kapal nahas itu hilang ditelan gelombang.
Richo (26), ABK asal Banyuwangi, menceritakan dirinya terbangun dari tidur saat kapal mulai miring dan lampu padam total sekitar pukul 23.30 WITA. "Kapal miring ke kanan, saya lari ke kiri, cari tempat tertinggi," ujarnya kepada wartawan di Jembrana, Kamis (3/7). Dalam kepanikan, Richo nekat terjun ke laut dan berhasil meraih pelampung bersama 15 penumpang lainnya. Namun, perjuangan belum berakhir. Ombak tinggi dan kelelahan membuat mereka terombang-ambing hingga pagi hari. "Orang-orang muntah, kelelahan, minum air laut. Untungnya, ada nelayan yang menolong kami," kenang Richo.

Kisah serupa diungkapkan Bejo Santo, salah satu penumpang selamat. Ia merasakan waktu berlalu begitu cepat dari awal tanda kebocoran hingga kapal tenggelam. "Hanya sekitar 3-5 menit, kapal sudah terbalik," katanya. Bejo dan tiga rekannya berusaha berpegangan tangan, berenang menuju pantai. Sayang, satu rekannya meninggal dunia sekitar pukul 03.00 WITA. Mereka baru mendapat pertolongan sekitar pukul 06.00 WIB.
Kabid Humas Polda Bali, Kombes Pol Ariasandy, menjelaskan KMP Tunu Pratama Jaya mengalami kebocoran di ruang mesin. Informasi permintaan tolong diterima sekitar pukul 00.16 WITA, disusul pemadaman listrik (blackout) dan kapal terbalik pukul 00.22 WITA. Hingga Kamis pukul 12.41 WIB, tercatat 35 orang dievakuasi, 4 meninggal dunia, dan 31 selamat. Korban selamat mendapat perawatan di Posko Kesehatan Gilimanuk. Tragedi ini menyisakan duka mendalam dan pertanyaan besar terkait keselamatan pelayaran di Selat Bali.



