Chapnews – Ekonomi – Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum (PU) baru-baru ini mengungkap tabir di balik masih enggan-nya investor asing menanamkan investasinya di proyek jalan tol Indonesia. Biang kerok utamanya adalah proyeksi lalu lintas kendaraan yang acap kali meleset dari target awal, sebuah tantangan krusial yang berdampak langsung pada potensi pendapatan dan periode pengembalian investasi.
Kepala BPJT Kementerian PU, Wilan Oktavian, mengakui bahwa realisasi lalu lintas kendaraan di beberapa proyek tol tidak selalu sesuai dengan perhitungan awal. Kondisi ini, menurut Wilan, fundamentalnya adalah soal pengembalian modal (return). "Kalau investasi itu kan sebetulnya dia hanya lihat return-nya aja, kalau policy-nya pas kemudian dia hitung return-nya oke, harusnya ikut," ujarnya saat ditemui di Kantor Kementerian PU, Kamis (3/4/2026).

Investor Asing Lebih Berhati-hati Akibat Proyeksi Meleset
Dalam kancah bisnis jalan tol, volume lalu lintas kendaraan adalah nadi utama yang menentukan besaran penerimaan tarif. Ketika realisasi volume kendaraan tak sejalan dengan proyeksi, arus kas proyek tertekan dan periode pengembalian investasi pun molor dari rencana. Kondisi ini sontak memicu kehati-hatian investor, terutama dari mancanegara. Mereka tak hanya menyoroti potensi keuntungan, melainkan juga menguji akurasi studi kelayakan yang menjadi pijakan krusial dalam pengambilan keputusan investasi.
Upaya Pemerintah Gaet Investor Asing dengan Studi Kredibel
Menyikapi tantangan tersebut, pemerintah kini gencar menggenjot kualitas penyiapan proyek. Fokus utama tertuju pada penyusunan studi lalu lintas dan kelayakan investasi yang lebih mumpuni. BPJT, bersinergi dengan Direktorat Jenderal Pembiayaan Infrastruktur Pekerjaan Umum (DJPI) serta Kementerian PPN/Bappenas, mendorong keterlibatan konsultan independen berintegritas tinggi.
"Kemarin kita sudah diskusi juga dengan DJPI dan Bappenas dan lain-lain, kita akan minta bantuan untuk penyiapan readiness criteria itu, atau studi-studi investasi itu kalau bisa dilakukan oleh lembaga-lembaga yang kredibel," lanjut Wilan. Langkah strategis ini diharapkan mampu melahirkan proyeksi yang lebih akurat dan transparan, sekaligus mengerek kepercayaan investor, baik domestik maupun asing.
Dengan demikian, investor, termasuk dari luar negeri, dapat memiliki gambaran jelas mengenai potensi pengembalian modal berdasarkan tarif dan jangka waktu yang realistis. "Sehingga investor itu bukan hanya investor di nasional, tapi investor dari luar negeri, misalnya ruas ini dihitung oleh mereka traffic-nya kira-kira seperti ini sehingga pengembaliannya bisa dengan tarif sekian, sekian tahun bisa balik," kata Wilan. "Nah kalau yang melakukan penyiapannya atau readiness criteria itu konsultan yang kredibel, mungkin salah satunya tadi kita bisa menyiapkan penyiapannya lebih baik lagi," tambahnya.
Tak berhenti di situ, pemerintah juga tak henti mengevaluasi skema pembagian risiko dalam proyek jalan tol. Dukungan pemerintah dalam menanggung sebagian risiko dinilai sebagai magnet vital untuk menarik minat investor. Meski demikian, Wilan mengungkapkan bahwa peminat investasi di sektor tol sejatinya masih cukup banyak. "Tapi memang mereka lihat-lihat nih kira-kira risiko yang bisa cover oleh pemerintah itu apa," pungkasnya. Di tengah gejolak ekonomi global, pembenahan fundamental proyek menjadi kunci agar investasi di sektor jalan tol tetap kompetitif dan kembali memikat modal asing.


