Chapnews – Ekonomi – Data terbaru menunjukkan peningkatan signifikan jumlah perempuan yang menjadi tulang punggung utama keluarga di Indonesia, sebuah realita yang menggarisbawahi urgensi akses pembiayaan inklusif. Di tengah tantangan ini, kisah Utari, seorang ibu berusia 58 tahun asal Panjang Jiwo, Surabaya, menjadi bukti nyata bagaimana ketekunan dan dukungan finansial yang tepat mampu mengubah nasib. Berawal dari modal Rp2 juta dan sebuah mesin jahit bekas, Utari kini sukses menghidupi keluarganya dan menyekolahkan anak-anaknya hingga jenjang perguruan tinggi.
Perjalanan hidup Utari bukanlah tanpa aral melintang. Pada tahun 2019, ia dihadapkan pada cobaan berat ketika suaminya mengalami kecelakaan serius yang membuatnya tidak dapat lagi bekerja. Situasi semakin sulit dengan merebaknya pandemi Covid-19, yang memukul sektor ekonomi secara global. Dalam kondisi terjepit, Utari memutuskan untuk mengandalkan satu-satunya keahlian yang ia miliki: menjahit.

"Waktu itu saya benar-benar bingung mencari pinjaman modal," kenang Utari. "Kemudian, seorang tetangga menyarankan untuk mencoba PNM Mekaar. Saya sempat bertanya-tanya, apa itu Mekaar?" Rasa penasaran itu membawanya pada sebuah peluang baru.
Pada tahun yang sama, Utari memperoleh pembiayaan awal sebesar Rp2 juta dari PNM Mekaar. Dana tersebut ia alokasikan dengan cermat: Rp1 juta untuk membeli sebuah mesin jahit bekas, dan sisanya untuk pengadaan bahan baku. Langkah sederhana itu menjadi fondasi bagi usahanya. Kini, bisnis tas suvenir Utari berkembang pesat, dengan pesanan yang datang dari berbagai daerah. Lebih dari sekadar keuntungan materi, keberhasilan usahanya telah memungkinkan Utari untuk menyekolahkan kedua anaknya hingga berhasil menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi.
Kisah inspiratif Utari bukan hanya tentang keberhasilan finansial, melainkan juga tentang semangat pantang menyerah seorang ibu dalam menghadapi badai kehidupan. Ini adalah cerminan bagaimana program pembiayaan inklusif seperti PNM Mekaar dapat memberdayakan perempuan, menjadikan mereka agen perubahan ekonomi bagi keluarga dan komunitasnya.


