Para peserta KELANA diajak melakukan kunjungan lapangan ke dua lokasi vital: Depo MRT Lebak Bulus di Jakarta Selatan, pusat penyimpanan dan perawatan kereta, serta area konstruksi bawah tanah proyek MRT Fase Kedua yang berlokasi di Silang Monas, Jakarta Pusat. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk memperkaya pemahaman generasi muda mengenai peran krusial transportasi publik rendah emisi dan berkelanjutan sebagai pilar utama dalam mitigasi krisis lingkungan serta mengurangi kepadatan lalu lintas di ibu kota.
KLH/BPLH menegaskan bahwa upaya pengendalian lingkungan di perkotaan memerlukan partisipasi aktif dari generasi muda. Mereka diharapkan mampu memahami secara komprehensif keterkaitan erat antara pengembangan infrastruktur transportasi modern, upaya pengurangan emisi karbon, dan perencanaan tata ruang yang berwawasan lingkungan.

Teknologi Ramah Lingkungan MRT Jakarta
Dalam kunjungan ke Depo Lebak Bulus, para siswa mendapatkan wawasan langsung tentang bagaimana Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta beroperasi sebagai sistem transportasi massal yang ramah lingkungan. MRT mengandalkan pasokan daya Listrik Aliran Atas dan didukung oleh sistem operasi Communication Based Train Control (CBTC) yang canggih. Teknologi ini tidak hanya menjamin efisiensi energi yang optimal, tetapi juga memastikan bahwa operasional MRT tidak menghasilkan emisi gas buang langsung di sepanjang koridor perkotaan.
Kehadiran transportasi publik berkinerja tinggi dengan tingkat ketepatan waktu yang mengesankan, melebihi 99 persen, menjadi representasi penting dalam mendorong masyarakat beralih dari penggunaan kendaraan pribadi. Hal ini secara signifikan berkontribusi pada penurunan emisi gas rumah kaca di Ibu Kota. "MRT adalah hasil kerja sama antar pemerintah antara Jepang dan Indonesia. Kami ingin mengadopsi standar dan kualitas Jepang yang diakui dunia dalam pengelolaan transportasi kereta api, termasuk kedisiplinannya," ujar Angga Satria Perdana, Head of Corporate Communication and Branding Department, PT MRT Jakarta (Perseroda).
Romi Setiawan, Ketua Kelompok Kerja Komunikasi, Informasi, dan Edukasi Biro Humas KLH/BPLH, menjelaskan bahwa kunjungan ke MRT Jakarta dirancang khusus agar generasi muda dapat menyaksikan langsung bukti nyata praktik pembangunan berkelanjutan. "KELANA, singkatan dari Kenali Lingkungan Bareng Anak Muda, bertujuan memberikan pengalaman langsung kepada anak muda mengenai proyek-proyek berkelanjutan di Indonesia, salah satunya MRT. Di sini, kami belajar bahwa Jakarta memiliki transportasi yang ramah lingkungan dan lestari, sekaligus menjadi representasi pengembangan transportasi umum di Indonesia," terang Romi Setiawan.
Pengembangan Berorientasi Transit untuk Kota Berkelanjutan
Selain aspek teknologi kelistrikan dan operasional kereta, KLH/BPLH juga memperkenalkan konsep Pengembangan Berorientasi Transit (Transit Oriented Development atau TOD) yang diterapkan oleh MRT Jakarta. Pembangunan kawasan TOD berbasis rel ini dipandang sebagai katalisator regenerasi perkotaan yang selaras dengan prinsip-prinsip keberlanjutan lingkungan.
Konsep TOD ini membawa sejumlah manfaat signifikan, meliputi:
- Reduksi Dampak Lingkungan: Mengurangi jejak karbon perkotaan dengan mengutamakan integrasi antarmoda angkutan umum massal dan fasilitas bagi pejalan kaki yang nyaman.
- Peningkatan Kualitas Hidup: Menciptakan ruang terbuka hijau publik serta kawasan yang nyaman dihuni (livable) dan menarik (lovable) bagi komunitas.
- Ketahanan Infrastruktur: Membangun infrastruktur perkotaan yang tangguh, mampu beradaptasi, dan responsif terhadap potensi risiko bencana serta dampak perubahan iklim.
Melalui kunjungan ke area konstruksi proyek MRT Fase Kedua di Silang Monas, para peserta juga berkesempatan melihat secara langsung bagaimana prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development) diterapkan secara ketat dalam proyek infrastruktur berskala besar. Victoria Titisari Kosasieputri, Putri Indonesia Lingkungan 2026 yang turut serta dalam KELANA Edisi Ketiga, menekankan urgensi aksi nyata generasi muda dalam merespons ancaman perubahan iklim global. "Menurut saya, program seperti KELANA ini sangat vital karena generasi muda harus diajak untuk peduli akan lingkungan dan keberlanjutan. Mengingat krisis iklim dan pemanasan global, sekaranglah saatnya untuk bertindak," tegas Victoria.
Anak Muda sebagai Agen Perubahan Edukatif
Di bawah tema khusus "KELANA Java Overtrip," pemahaman peserta tentang transportasi publik berkelanjutan juga diperluas dengan mengaitkannya pada tantangan ekologi perkotaan yang lebih luas, termasuk isu pengelolaan limbah dan sampah yang masih memerlukan perhatian serius. Para peserta juga dibekali dengan kapasitas komunikasi agar mampu mengolah pengalaman lapangan dari pengelola MRT Jakarta dan pegiat lingkungan menjadi konten digital yang edukatif dan inspiratif. "Saya bisa membagikan konten-konten, lalu saya bisa menyampaikan kepada teman-teman bagaimana kita sebagai generasi muda dapat mengelola sampah demi Indonesia yang lebih bersih di masa depan," ungkap Sheikha Lana, salah satu peserta KELANA dari SMA Negeri 1 Depok.
Melalui program KELANA ini, KLH/BPLH menaruh harapan besar agar generasi muda tidak hanya memahami pentingnya beralih ke moda transportasi umum yang ramah lingkungan seperti MRT, tetapi juga bertransformasi menjadi agen perubahan yang proaktif dalam mengomunikasikan dan mengimplementasikan budaya hidup berkelanjutan di tengah masyarakat.


