Chapnews – Ekonomi – Badan Gizi Nasional (BGN) baru-baru ini mengungkap fakta mengejutkan terkait insiden keracunan yang terjadi dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurut BGN, mayoritas, atau lebih dari 80 persen, kasus keracunan tersebut ternyata disebabkan oleh pelanggaran Standar Operasional Prosedur (SOP) yang seharusnya menjadi pedoman utama dalam penyediaan makanan.
Kepala BGN, Sudaryono, menyampaikan temuan ini dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi IX DPR RI pada Jumat (4/9/2026), sebagaimana dikutip dari chapnews.id. Sudaryono menegaskan bahwa akar masalah bukan terletak pada kualitas bahan baku semata, melainkan pada kelalaian implementasi prosedur di lapangan.

"Saya kira, sebagian besar, lebih dari 80 persen itu adalah pelanggaran SOP," ujar Sudaryono lugas di hadapan anggota dewan. Ia menambahkan bahwa pelanggaran tersebut utamanya berkaitan dengan tata cara penyimpanan makanan dan waktu konsumsi yang tidak sesuai standar.
Lebih lanjut, Sudaryono menjelaskan bahwa dalam sejumlah kasus, pelanggaran terjadi karena pelaksana program belum sepenuhnya memahami prosedur yang telah ditetapkan. Salah satu persoalan krusial yang disoroti adalah ketidaksesuaian kapasitas dapur dengan jumlah makanan yang harus disiapkan.
"SOP penyimpanan makanan disajikan misalnya kapasitas dapur, intinya adalah kenapa ada keracunan? Karena ada dapur kecil dikasih yang banyak, sehingga dia adanya memasak pagi-pagi, ditaruh dulu, dia masak lagi," papar Sudaryono. Kondisi ini memaksa para pelaksana untuk menyiapkan makanan jauh sebelum waktu konsumsi, kemudian menyimpannya dalam kondisi yang mungkin tidak ideal, sehingga meningkatkan risiko kontaminasi bakteri dan pembusukan.
Temuan BGN ini menggarisbawahi urgensi evaluasi menyeluruh terhadap implementasi program MBG, khususnya pada aspek pelatihan dan pengawasan. Kepatuhan terhadap SOP yang ketat, mulai dari proses pengadaan bahan, pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi dan waktu konsumsi, menjadi kunci vital untuk menjamin keamanan dan kualitas makanan yang disajikan kepada masyarakat. Edukasi berkelanjutan bagi para pelaksana program diharapkan dapat meminimalisir risiko keracunan di masa mendatang.

