Chapnews – Nasional – Pemerintah Indonesia kembali memperkuat barisan penanggulangan bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih melanda sejumlah wilayah di Kalimantan. Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, mengumumkan pengerahan lima pesawat tambahan dari TNI Angkatan Udara untuk mempercepat upaya pemadaman dan mitigasi dampak.
Pada Jumat siang, lima pesawat tempur udara tersebut diberangkatkan dari Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, dengan tujuan Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur. Penambahan armada ini dirancang untuk memperkuat 30 unit pesawat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang telah beroperasi secara intensif di tiga provinsi terdampak di Kalimantan.

Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa langkah strategis ini merupakan wujud komitmen pemerintah dalam melindungi keselamatan dan kesehatan masyarakat, serta menjaga kelestarian lingkungan dari ancaman karhutla. Selain itu, TNI AU juga tetap menyiagakan sejumlah pesawatnya di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, yang siap diterbangkan kapan pun jika dibutuhkan oleh BNPB.
Mengutip laporan terbaru dari BNPB, Teddy menyebutkan bahwa total 52 pesawat telah dikerahkan dalam operasi penanganan wilayah yang berpotensi tinggi mengalami karhutla. Dari jumlah tersebut, 30 pesawat berfokus di Kalimantan, sementara 22 pesawat lainnya disiagakan untuk wilayah Sumatra.
Situasi darurat ini juga mendorong Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) untuk bertindak cepat. Menteri Lingkungan Hidup, Jumhur Hidayat, telah menerbitkan instruksi mendesak kepada enam gubernur di Sumatra dan Kalimantan. Instruksi tersebut memfokuskan pada perlindungan keselamatan masyarakat di Riau, Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Jambi, dan Kalimantan Selatan, yang merupakan daerah paling rentan.
Fenomena El Nino kuat yang melanda Indonesia sejak Juli lalu diyakini menjadi pemicu utama melonjaknya kerawanan karhutla. Kondisi ini tidak hanya menyebabkan kebakaran meluas, tetapi juga memicu penurunan kualitas udara yang signifikan di beberapa daerah terdampak.
Data pemantauan terbaru dari KLH menunjukkan konsentrasi PM2.5 yang mengkhawatirkan: Kampar (Riau) mencapai 48,84 mikrogram per meter kubik, Ogan Ilir (Sumatera Selatan) 47,39 mikrogram per meter kubik, Katingan (Kalimantan Tengah) 30,16 mikrogram per meter kubik, Kota Jambi 26,18 mikrogram per meter kubik, Pontianak (Kalimantan Barat) 26,41 mikrogram per meter kubik, serta Banjarmasin (Kalimantan Selatan) 17,40 mikrogram per meter kubik. Angka-angka ini menggarisbawahi urgensi penanganan komprehensif yang terus diupayakan pemerintah.


